Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen "NAKAL"

Siap tidak siap kamu harus tinggal di pesantren”
Tapi, yah.”
Aku sebenarnya enggan mengiyakan permintaan ayah. Kalau bukan karena perintah ibu, mungkin aku sudah membantah. Ayah terlalu terburu-buru mendaftarkan aku di pesantren. Bayangkan aku masih kelas tiga Sekolah Dasar, usia yang seharusnya aku gunakan untuk bersenang-senang dan mulai mengenal hal yang baru. Tapi aku tak pernah menolak keinginan ibu karena itu aku menurut saja dengan apa yang dikatakan ayah.
Aku anak kdtiga dari empat bersaudara. Kata ibu aku berbeda dengan ketiga saudaraku. Kakak perempuanku memiliki wajah yang mirip dengan ayah, kakak laki-laki memiliki sifat seperti ibu, sedang adikku memiliki karakter seperti ayah. Aku memiliki kulit yang hitam, tubuh yang pendek, dan wajahku tidak mirip sedikitpun dengan ayah dan ibu. Begitulah kenapa aku dinilai berbeda dengan keluargaku.Walaupun begitu, aku tidak pernah berpikir untuk merubah sifatku, karena aku merasa bangga dengan aku yang seperti ini
Dulu ketika aku duduk ditaman kanak-kanak sifat nakal sudah mulai tumbuh dalam diriku. Di rumah aku sering membuat masalah. Misalnya menambahkan garam yang banyak pada masakan ibu, mengambil uang belanja ibu di kotak plastik di dalam lemari dapur, mengotori rumah dengan kertas yang aku bentuk pesawat, burung, dan sejenisnya, menyembunyikan seragam milik kakak perempuanku ketika dia hendak bersiap-siap ke sekolah, menyuruh adikku mencoret-coret tembok dan mengempesi ban sepeda motor ayah ketika akan berangkat bekerja.
Kenakalanku berkanjut ketika aku duduk di Sekolah Dasar, aku semakin menjadi-jadi. Semua orang mungkin merasa sangat terganggu dengan adanya aku. Di sekolah aku pernah memberi lem di kursi guru, menaruh tikus di celah bangku teman-teman, mengajak teman laki-laki bertengkar dan taruhan, membuat keributan ketika pelajaran berlangsung, menggoda teman perempuan, menantang kakak kelas adu kejantanan, dan masih banyak masalah-masalah yang kubuat. Aku selalu mecari celah untuk membuat masalah. Banyak sekali hal buruk yang aku lakukan yang membuat jengkel keluargaku. Bahkan aku sering dimarahi tetangga akibat ulahku, dan tak jarang pula guru-guruku memberikan hukuman padaku. Tapi, aku tak merasa malu – tak sedikitpun – merasa malu dengan masalah yang kubuat.
Menurutku nakal adalah suatu prestasi yang tidak dimiliki semua orang. Banyak orang takut dengan orang nakal karena itu aku tak pernah malu menjadi anak nakal. Nakal adalah suatu kebanggaan yang harus dilakukan seumur hidup sekali. Itu yang ada dibenakku.
Mungkin itu alasan ayah memasukkan aku kepesantren di usiaku yang masih belia. Agar aku bisa berubah dan tidak merepotkan orang tua serta orang disekitarku karena sifat burukku.
Di pesantren mana aku akan tinggal?”
Nanti ketika sampai di sana kamu akan tahu, pokoknya di daerah Ponorogo.”
Dan, berangkatlah kami dari kampung dengan becak menuju terminal bus. Barang yang kami bawa adalah perlengkapanku selama di Pesantren terutama oleh-oleh buat Kyai. Aku hanya diantar ayah karena ibu harus menjaga adik di rumah dan kakakku harus berangkat sekolah. Ayah membawa kardus isi pakaian dan tas ransel besar isi buku. Tangan kananku sekardus wingko yang dibungkus plastik, sedang tangan kiriku sebotol air putih.
Terminal, berapa?” ayah menawar becak. Aku tak tahu kemana kita akan pergi. Baru ketika di becak, kedua kaki menumpang di atas kardus isi pakaian, memangku sekardus wingko, ayah berkata.
Teman ayah bilang, kita hanya memberikan alamat ini ke kernet bus, nanti kernet akan memberi petunjuk jalan pada kita”. Saat itu aku baru tahu ternyata ayah juga belum tahu pesantren yang akan aku tempati nanti selama enam tahun ke depan.
Dalam perjalanan, kepalaku sangat pusing. Sopir yang ugal-ugalan membuat semua penumpang was-was. Ayahku sudah tertidur pulas dengan tas ransel besar dipangkuannya. Aku pun menyamakan diri seperti ayah.
Ponorogo…Ponorogo…Ponorogo…”
Ponorogo pak”, kernet membangunkan ayah. Dengan refleks aku dan ayah langsung terbangun. Sebelum keluar dari bus, kernet memberi arah jalan yang harus dilewati.
Pintu keluar terminal Ponorogo begitu jauh dari bus kami, sehingga beban di tangaku serasa sangat berat. Sedangkan ayah dengan beban yang lebih berat di belakangku, aku berjalan secepat mungkin mengikuti arus orang.
Ju! Tunggu ayah!” teriak ayah. Aku terus berjalan mengikuti arus orang tanpa menghiraukan ayah, pikiran nakalku kembali terbersit. Aku menghilangkan diri dari ayah agar ayah kerepotan mencariku.
Ayaaaaaaaaah” teriakku ke arah ayah ketika aku sampai di pintu keluar. Aku tertawa melihat ayah yang bingung mencari asal suaraku. Hingga akhirnya ayah menyadari keberadaanku, aku hendak berlari lagi, namun tiba-tiba Praaak, sebongkah kayu besar menghantam kepalaku membuatku terjatuh. Saat itu kepalaku langsung terasa berat, namun aku masih menyadari ketika ayah berteriak menyebut namaku bersamaan dengan orang asing yang merebut tas di tanganku dan langsung berlari.
Ketika aku sadarkan diri, aku sudah berada di atas kasur dengan warna ruangan dan perlengkapan serba putih, kepalaku diperban.
Ayah” aku memanggil ayah yang berada disampingku.
Ju, kamu sudah sadar nak?”
Aku dimana yah? Aku kenapa?”
Ini di rumah sakit. Sudah, kamu istirahat saja dulu, kepalamu pasti masih sakit” ayahku tersenyum, dengan matanya yang sembab dan wajah yang tak ceria, aku tahu bahwa ayah sangat menghawatirkanku. Aku terdiam, mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Dengan kepala yang terasa sangat berat, aku meyadari semua ini adalah akibat ulah nakalku yang tak bisa ku kendalikan, dalam pikiranku terpikir ada keinginan untuk merubah diri. Terasa sudah bosan mendengarkan orang tua dan tetangga-tetanggaku yang sering memarahiku. Aku ingin memulai hidup baru yang lebih baik di pesantren. Dan aku tidak ingin kecelakaan ini terulang kembali.

Malang, 22 Juni 2012

Cerpen "Kebohongan yang Terakhir" Karya Rahini Ridwan

By: Faizatur Rohmah
CERPEN “KEBOHONGAN YANG TERAKHIR”
KARYA RAHINI RIDWAN
(Pendekatan Sosiologis)
Perkembangan kritik sastra Indonesia dalam dekade tahun 1980-an ditandai dengan munculnya beberapa pembicaraan mengenai sosiologi sastra atau pendekatan sosiologis terhadap karya sastra. Dalam hal ini, kritik sastra sesungguhnya mencoba memanfaatkan disiplin ilmu lain(sosiologi) untuk memberi penjelasan lebih mendalam mengenai salah satu gambaran kemasyarakatan yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai hubungan kritik sastra dengan sosiologi muncul karena ada anggapan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat. Masalah mengenai hubungan sosiologi (masyarakat) dengan sastra telah cukup jelas dipaparkan Rene Wellek dan Austin Warren (TosKesusastraan, 1989) Sapardi Djoko Damono (Sosiologi Sastra: SebuahPengantar, 1984) atau Andre Hardjana (Kritik Sastra: Sebuah Pengantar, 1981).
Pemahaman atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap apabila karya itu tidak dipisahkan dari lingkungan, Kebudayaan atau peradaban yang menghasilkanya. Dikatakannya juga bahwa karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dan faktor-faktor sosial dan kultural. Pernyataan itu mengisyaratkan perlunya menghubungkan faktor sosial-budaya dalam usaha memahami karya selengkapnya. Dan hubungan ini akan tampak bahwa dalam beberapa ungkapan sastra sebagai cermin masyarakat mempunyai nilai kebenaran. Apalagi jika ternyata kita tidak memperoleh bahan tulisan tentang karya itu (Grebstein, 1968).
Menurut Rifattre (1978), suatu karya sastra tidak diciptakan dari ruang yang kosong dan hama. Sastra tidak berasan dan ketiadaan kemudian diciptakan oleh pengarang.
Cerpen ”Kebohongan yang Terakhir” karya Rahini Ridwan merupakan cerpen pilihan kompas 1970-1980, yang termuat dalam buku Dua Kelamin bagi Midin. Ridwan sebagai pengarang mengangkat suatu cerita berdasarkan fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Cerpen ini menceritakan tentang seseorang yang mempunyai kebiasaan berbohong. Seringkali tokoh Aku dalam cerpen ini berbohong sehingga masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal mencibirnya sebagai pembohong. Dia tidak pernah merasa malu dengan kebohongan yang dibuat, menurut dia kebohongan adalah prestasi karena dengan begitu punya predikat, status dan kontak sosial sebagai pembohong. Suatu malam yang menjadi puncak kebohongan yang dilakukan tokoh Aku, yaitu saat dia mendatangi setiap rumah orang sekampung dan berkata pada mereka bahwa pak lurah Nurdin selaku lurah dikampungnya telah meninggal. Mendengar pemberitahuan yang seperti itu seluruh warga percaya. Setelah mengetahui kebohongan yang dilakukan tokoh aku, seluruh warga menghakiminya di pendopo dan selesai kejadian itu, ibu tokoh Aku meninggal.
Membaca cerpen ”Kebohongan yang Terakhir” menggambarkan sebuah konflik yang terjadi dalam masyarakat. Adanya konflik tersebut berhubungan dengan kehidupan tokoh utama yang kurang perhatian dari ibunya, itu disebabkan karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya yang sering sakit-sakitan. Kurangnya perhatian yang diterima tokoh utama dalam cerpen, membuatnya melakukan kebiasaan yang tak terpuji tapi disenanginya yaitu berbohong. Hal tersebut menjadikan tokoh utama kurang dapat di terima di lingkungan masyarakat, karena adanya faktor tidak suka dari prilaku sang tokoh. Tapi walaupun demikian, pengarang menghadirkan prilaku positif dari tokoh utama yaitu dia tidak pernah membohongi ibunya.
Dari masalah yang diangkat pengarang dalam cerpen, dapat dilihat bahwa fenomena sosial yang terjadi hanya berasal dari satu konflik yaitu masalah kebohongan. Di mana konflik tersebut sengaja di buat oleh tokoh utama yang mengakibatkan kampung menjadi ribut. Tidak pernah ada penyesalan dari perbuatan yang dilakukannya, tapi dia malah senang jika masalah yang dibuatnya berhasil. Dari situ dapat diketahui realita ”kehidupan” dan ”lingkungan” yang terjadi dalam masyarakat.
Ridwan sebagai pengarang cerpen “Kebohongan yang Terakhir” menghubungkan konflik dalam cerpen dengan masyrakat pada masa itu, sehingga masyarakat ikut terlibat didalamnya. Di samping itu, pengarang juga menceritakan kehidupan yang dialami tokoh utama secara detail. Namun, kehidupan tentang masyarakat tidak begitu diceritakan dalam cerpen ini, hanya terlihat secara implisit.
Lingkungan yang digambarkan pengarang dalam cerpen terlihat alami, seperti tempat tinggal yang masih menggunakan gubuk-gubuk sederhana. Dengan begitu pembaca dapat ikut merasakan suasana yang terjadi. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat juga dimanfaatkan pengarang dalam cerpen ini. Hal ini tampak pada kalimat “Entah berapa ratus orang dengan muka tegang dan marah telah berjejal memenuhi pendopo”. Dari kalimat itu dapat diketahui bahwa ketika terjadi suatu masalah di kampung, seluruh warga pergi ke pendopo untuk menyelesaikannya bersama. Tradisi seperti itu mencerminkan realita sosial yang terjadi dalam cerpen “Kebohongan yang Terakhir”.
Setelah membaca cerpen ini pembaca dapat menarik pemahaman bahwa cerita ini bukanlah semata-mata kenyataan yang diceritakan, namun hanya rekaan dari pengarangnya. Di mana tujuan pengarang yaitu agar pembaca dapat mengambil manfaat dari peristiwa yang terjadi dalam cerpen. Di samping itu pengarang juga memberikan informasi, bahwa kebohongan yang dilakukan tokoh utama adalah kebohongan yang terakhir, yang mana kebohongan adalah perilaku yang biasa dilakukan tokoh utama sedangkan yang terakhir adalah untuk yang terakhir kalinya karena musibah besar telah menimpanya sehingga membuatnya sangat menyesal.
Melalui cerpen ini pula, pengarang menyampaikan suatu amanat bahwa dalam kehidupan ini setiap kebohongan pasti akan menimbulkan dampak buruk dan menjadikan orang lain tidak percaya. Oleh sebab itu, hendaknya menjauhi perilaku berbohong karena sekali saja orang dibohongi, kemungkinan besar orang tersebut tidak akan pernah percaya dengan orang yang membohonginya. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada tiga kutipan berikut.
Sekali waktu, suatu malam yang dingin. Disinilah puncak kebohonganku yang paling besar, yang akhirnya membuat semua orang tak lagi percaya padaku. Kudatangi setiap pintu rumah orang sekampung, kuketuk keras-keras dan tergesa-gesa. Kukatakan pada mereka: ”Pak Lurah Nurdin sudah meninggal!”
...............................................................................................................

Samar-samar dalam sinar teplok yang redup , kudapati ibuku terjatuh, telungkup di bawah dipan bambu. Dari mulutnya keluar darah hitam. Kuusap wajahnya. Dingin Ah, aku hampir menjerit. Ia telah meninggal.
...............................................................................................................

Dalam kegelapan. Batinku meronta. Tak tahu apa yang harus kubuat. Akankah kuketuk lagi setiap pintu rumah mereka dan kukatakan ibuku telah meninggal? Akankah mereka percaya bahwa kali ini-walau hanya untuk kali ini saja-aku berkata tentang hal yang sebenarnya? Akankah mereka bersedia membuka pintu untukku yang kembali menyampaikan berita tentang kematian?

Selain itu, dalam cerpen ”Kebohongan yang Terakhir”, pengarang juga menyampaikan suatu pesan tentang kematian yaitu maut tidak pernah berbohong. Dalam cerpen ini pengarang juga memberi pesan secara implisit bahwa berbohong juga ada batasnya, sehingga dapat disimpulkan berbohong tentang kematian orang lain akan sangat fatal dampaknya. Hal ini tergambar pada kutipan berikut.
”Ah, tidak mungkin secepat itu beliau meninggal,” kata yang lain. ”Masya Allah!” jawabku tegang. ”Kapankah maut pernah kompromi dengan manusia?” Akhirnya mereka semua percaya. Aku berhasil. Malam itu juga seluruh kampung menjadi sibuk, ramai, dan masing-masing bergegas menuju rumah duka, rumah Pak Lurah Nurdin. Aku tersenyum puas sambil menikmati rokok klintingan di tempat tidur.

Kutipan diatas memberikan gambaran bahwa kebohongan tentang kematian orang lain akan menimbulkan masalah besar dalam suatu masyarakat. Dalam cerpen ini orang yang menjadi sasaran kebohongan tokoh utama adalah Pak Lurah Nurdin selaku lurah di kampungnya. Dari penjelasan kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan hendaklah dipikirkan terlebih dahulu dampak yang akan di timbulkan, sehingga tidak merugikan orang lain.





Daftar Rujukan:
Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. 2003. Dua Kelamin bagi Midin. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Grebstein. 1968. Pendekatan sastra, (Online), (http://zainuddinfanani.wordpress.com/2000/02/14/pendekatan-sastra/), diakses pada 2 Januari 2012.
Rifattre. 1978. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra, (Online), (http://aminuddin.blogspot.com/1995/10/01/pengantar-aspresiasi-karya-sastra/), diakses pada 2 Januari 2012.


















Pertanyaan Pengantar Sastra:
1. Apa tema utama yang akan disampaikan pengarang dalam cerpen tersebut? Apakah tema yang disampaikan berkaitan dengan konteks masyarakat pada saat cerpen tersebut dilahirkan (hingga saat ini)? Jelaskan!
2. Berkaitan dengan tokoh dalam cerpen, setujukah anda dengan sikap/ tindakan/ perilaku yang dilakukan oleh tokoh utamanya? Jelaskan jawaban anda!?
3. Cerpen yang anda pilih adalah cerpen terbaik kompas pada tahun tertentu. Menurut pertimbangan Anda, mengapa cerpen tersebut dipilih oleh kompas sebagai cerpen yang terbaik?
4. Kutiplah salah satu alenia yang menurut anda menarik? Beri alasan!

Jawaban:
1. Tema utama yang pengarang sampaikan yaitu tentang fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Ya, karena konflik yang dihadirkan pengarang dalam cerpen menyangkut kehidupan masyarakat pada suatau kampung.
2. Tidak, karena tokoh utamanya mempunyai kebiasaan yang tidak terpuji yaitu berbohong. Perilaku tokoh utama tidak mencerminkan seseorang yang dapat dipercaya, sifatnya yang suka berbohong sangat merugikan orang lain, sehingga masyarakat dikampungnya sulit untuk menerimanya.
3. Menurut saya, karena cerpen tersebut menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami pembaca. Di samping itu cerita yang ada dalam cerpen berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
4. “walau demikian kelakuanku di luar rumah, tapi didalam rumah sendiri aku tak pernah membohongi ibuku.”
Menurut saya kutipan diatas menarik karena perilaku tokoh utama yang selalu berbohong, tapi saat di rumah dia tidak pernah membohongi ibunya. Dari situ kita dapat mengetahui bahwa seburuk-buruknya perilaku seseorang pasti tidak akan tega menyakiti hati ibunya dan tidak semua orang yang perilakunya jelek tidak mempunyai perilaku yang baik.

Jalan Asmaradana

CERPEN “JALAN ASMARADANA” KARYA KUNTOWIJOYO
Ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram, diwakili oleh teman saya Nurhasan. Dia yang tinggi akan melonjok sedikit dan mencapai langit-langit kamar tamu rumah bertingkat yang kami banggakan, “Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter supaya ruangan sejuk.” Mengenai genteng dikatakannya, “Kok dari asbes. Mereka ingin semua penghuni Perumnas kena kanker.” Mengenai dunia dikatakannya-menirukan dalang. “Jaman sudah tua, perempuan jual badan, anak lahir tanpa bapak, orang suci dibenci, orang jahat diangkat, orang jujur hancur.” Melihat ada rumah mewah di Perumnas, dia akan bilang, “Lihat orang-orang kaya mendepak keluar orang-orang miskin.” Mendengar ngoèng-ngoèng mobil pejabat, dia akan berkomentar, “Dengar itu sang menteri korup lewat.”
Lain lagi teman saya Kaelani yang memandang hidup sebagai komedi, sebuah lelucon. Dia adalah pemborong: SD Inpres, jalan aspal, talud sungai. Di mana-mana: mantenan, tirakatan 17 Agustusan, katanya sambil ketawa, “Pemborong itu harus jadi pembohong.” Gedung retak, aspal mengelupas, tanah longsor, semua ditertawakannya. “Ya, kalau rusak diproyekkan. Semua senang, DPRD, kepala dinas, dan tentu saja pembohongnya, eh, pemborongnya”. Katanya lagi, “Pemborong itu masuk sorga tanpa dihisap.” Dihisap artinya dihitung baik-buruk amalnya. Sambungnya, “Apa sebab? Karena ia suka berbohong untuk menyenangkan orang.”
Akan tetapi, keduanya sangat lain dengan kasus Pak Dwiyatmo versus Said Tuasikal di Jalan Belimbing (keluarga kami menyebutnya sebagai Jalan “Asmaradana”. Asmara artinya cinta, dana singkatan dari dahana artinya api). Itu adalah tragi-comedy yang mengganggu karier saya sebagai Ketua RT.
Mohon diketahui bahwa selepas tugas belajar saya tinggal di Perumnas, bagian perumahan dosen. Sebagai orang paling terpelajar, saya didaulat teman-teman jadi Ketua RT, menggantikan Pak Trono yang pindah. Tentu saja saya menolak dengan banyak alasan: sering tak di rumah, mengajar di sana-sini, pekerjaan kantor bermacam-macam, masyarakat besar membutuhkan tenaga saya. Tentu saja tidak saya katakan bahwa akan segera dipromosikan ke Jakarta.
“Bapak tidak usah repot, Ketua RT itu hanya kedudukan simbolis,” kata seorang pemondok dengan bahasa sekolahan. Dia sedang sekolah S2.
Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling konkret di dunia: mengurus PBB, semprotan DB, kerja bakti membersihkan selokan, menjenguk orang sakit, pidato manten, dan banyak lagi. Presiden bisa diam, Ketua RT tidak.
“Jangan khawatir, urusan RT adalah urusan bersama,” kata seseorang.
“Gotong-royong kita sangat bagus.”
“Kita masih punya semangat empat-lima.”
Setelah semua mendesak, kata saya, “Saya terima pekerjaan ini, dengan satu syarat. Ketua RT itu tugas kolektif keluarga. Saya dan istri. Kalau saya di rumah, saya akan aktif, kalau tidak, istri yang mengerjakan.”
Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya Ketua RT berijazah S3 dari universitas papan atas di Amerika. Dan Ibu Pertiwi punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York. Sekali-sekali rapat bulanan RT saya pimpin, sekali-sekali istri saya. Test-case yang pertama-apakah doktor luar negeri bisa jadi Ketua RT-ialah mengurus perkara Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal. Mereka tinggal satu kupel, dinding dari asbes menyekat RS mereka yang masih asli itu. Pak Dwiyatmo adalah penghuni lama, Said dan istri menyewa rumah sebelahnya untuk lima tahun sampai selesainya program S3. Said berasal dari Ambon, dibiayai APBD untuk sekolah.
Pasangan Said orangnya baik. Said ikut ronda, dan istrinya ikut arisan. Dari poskamling dan arisan itulah warga tahu keluhan-keluhan mereka tentang Pak Dwiyatmo yang secara tidak sengaja dikatakan. Sebagai warga yang baik, mereka berdua datang untuk mengenalkan diri kepada Ketua RT yang baru secara formal.
“Beta orang Ambon, istri beta orang Jawa.”
“Dan anak Mas Said jadi Jambon. Itu warna pink, warna cinta.” Jadi ada Jadel, ada Jamin, ada Jambon.
“Memang kami cinta Indonesia,” katanya serius, tidak tahu kalau saya hanya berkelakar.
“Setidaknya kamu cinta perempuan Jawa.”
“Bukan setiap perempuan Jawa, Bapak, tapi Jawa yang ini.” Terlihat istrinya menyikut suami.
Singkatnya, Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising. Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok. Tak seorang pun tahu apa yang dikerjakannya. Siang hari pintu rumahnya tertutup karena pergi. Malam hari juga tertutup, karena itu saran dokter puskesmas. Maka ia absen di semua kegiatan kampung. Tapi bunyi malam-malam itu! Dan Said berdua yang pasangan pengantin baru perlu malam yang sepi! Entah untuk apa.
Namun, wong sabrang yang biasanya thok-leh dan bernama Said itu, tak pernah menegur secara langsung Pak Dwiyatmo perihal kelakuannya. Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat menangkap isyarat.” “Ya kalau iya, kalau tidak, bagaimana?” bantah suaminya. “Tunggu saja.” Mereka menunggu, tapi tiap larut malam thok-thok itu masih terdengar, membuyarkan harapan indah mereka di tempat tidur. Maka, perseteruan diam-diam itu berjalan terus.
Memang, para tetangga bilang kalau ada yang aneh pada Pak Dwiyatmo setelah istrinya meninggal. Dia, yang dulu rajin, tidak lagi ke masjid. Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qana-ah, artinya tidak ikhlas menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya (Allahumaghfirlahu, semoga Allah mengampuninya. Semoga dipanjangkan umurnya sehingga ia sempat bertaubat). Sebagian lain mengatakan bahwa ia selalu sembahyang di sungai dekat pemakaman Tegalboyo, sudah itu membuka bungkusan dan makan. Sebagian lagi mengatakan setiap Jumat ia pergi sembahyang di masjid Ploso Kuning. Ada yang mengatakan bahwa ke masjid di Perumnas akan melukai hatinya, sebab ia selalu pergi jamaah bersama istrinya dulu. Saya tidak tahu mana yang benar.
Pagi hari dia akan terlihat membawa cangkul. Kabarnya ia sudah memesan “rumah masa depan” di pekuburan Tegalboyo, di samping kuburan istrinya. Soal liang kubur itu urusan Pak Dwiyatmo, itu HAM. Dan saya sebagai Ketua RT tak pernah punya waktu untuk menegur Pak Dwiyatmo tentang thok-thok itu. Hari Minggu pun pagi-pagi sekali ia akan memikul cangkul, mengunci pintu, siang pulang, mengunci pintu, dan tidur sampai sore.
Paling mudah ialah mendatangi Said, “Mas Said, di Jawa ini orang perlu hidup rukun. Pandai menyesuaikan diri seperti kalian berdua. Ajur-ajer”. Tampak Said tidak tahu arah pembicaraan saya. Istrinya yang menjawab.
“Orang sebelah itu pasti punya kelainan, Pak.”
“O ya, Bapak. Suara-suara itu sungguh mengganggu!” timpal suaminya.
“Ya pindah rumah, to. Kok sulit-sulit.”
“Ininya, Bapak,” katanya sambil menggosokkan ibu jari ke telunjuk.
Suatu pagi saya bersama istri jalan-jalan. Di pintu gerbang RT kami bertemu Said berdua, berdandan rapi.
“Pagi-pagi sekali, dari mana?”
“Ala Bapak ini bagaimana, Proyek Jambon, tentu”.
“Lho, kok?”
“Kami selalu ke hotel, tenang. Tapi tidak tahu sampai kapan kami tahan.”
Kami baru saja tahu apa yang dikerjakan Pak Dwiyatmo di malam hari. Pasalnya begini. Anak-anak Perumnas sedang main sembunyi-sembunyian. Kebetulan pintu rumah Pak Dwiyatmo terbuka, dia tertidur di kamar karena kelelahan mencangkul itu. Beberapa anak laki-laki masuk rumah dan bersembunyi di dalam meja-mejaan Pak Dwiyatmo yang ditutup dengan kayu. Aman.
“Di mana kalian? Kami kalah.”
Mereka membuka tutup meja-mejaan, “Sini!” Lalu menutupnya kembali.
“Di mana?”
“Sini!”
Berulang-ulang.
Tiba-tiba seorang mengerti arah suara itu. Lalu lari tunggang langgang sambil menjerit-jerit. Anak-anak dalam meja-mejaan itu keluar dan ikut lari dan menjerit-jerit. Orang-orang di gang itu pun keluar. Mereka pergi ke rumah Pak Dwiyatmo. Masya Allah! Keranda! Keranda! Suami-istri Said ikut keluar. Keranda! Sejak itu keluarga Said menghilang.
Beberapa hari kemudian Ketua RT dapat panggilan dari Pengadilan Negeri. Saya berhalangan, yang datang Bu RT alias istri saya. Di kantor pengadilan istri saya menunjukkan surat panggilan itu.
“Panggilan itu untuk Ketua RT. Tidak bisa diwakilkan begitu saja.”
“Saya penggantinya. Ini Surat Kuasa.”
“Kalau begitu, tunggu.” Ia masuk ruangan.
Ketua Pengadilan atau yang mewakili keluar.
“Begini, Bu. Ini ada gugatan untuk Pak Dwiyatmo karena ia mengganggu ketertiban. Tolong diselesaikan dengan damai, tanpa melalui pengadilan.”
Melihat keranda itu rupanya Said atau istrinya jadi betul-betul tidak tahan. Pantas mereka kabur dan menggugat lewat pengadilan. Mereka berpikir bahwa paling-paling Ketua RT menyarankan agar mereka menyesuaikan diri, karena saya tidak juga menegur Pak Dwiyatmo. Saya merasa bersalah. Sungguh mati, saya tidak tahu kalau Pak Dwiyatmo sedang membuat keranda.
Saya sedang mencari waktu luang untuk bertemu Pak Dwiyatmo, ketika tiba-tiba ada perubahan besar. Masalah keranda yang sudah diketahui umum itu membuatnya berhenti bekerja sama sekali. Dia tidak lagi thok-thok di waktu malam, tidak lagi memanggul pacul di siang hari. Pekerjaannya ialah menyapu-nyapu halaman, lalu leyeh-leyeh di lincak di depan rumahnya.
Saya menghubungi Pascasarjana UGM dan mendapat alamat Said. Saya menghubungi Said, mengatakan bahwa tidak ada lagi gangguan ketertiban. Dengan malu-malu Said jadi warga RT kembali. Ketika minta maaf kepada saya karena telah merepotkan, dia membawa sebotol minyak kayu putih.
Pak Dwiyatmo sedang menyapu-nyapu halaman ketika lewat seorang perempuan setengah baya.
“Kok menyapu sendiri, Pak?”
“He-eh, tidak ada yang disuruh.”
Lain hari perempuan itu lewat lagi.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti lelah, lho.”
“He-eh, habis bagaimana lagi.”
Lain hari perempuan itu sengaja lewat.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?”
“Ya tidak ada.”
Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu.
“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?”
“Mau saja.”
Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah. Mereka jalan-jalan bulan madu kedua ke Sarangan. Saya tahu karena suami-istri minta titip rumah pada Ketua RT. Tumben, ada keceriaan di wajah Pak Dwiyatmo yang selama ini belum pernah saya lihat. “Mau kuda-kudaan, ya?” maksudnya, naik kuda keliling danau. “Ah, Bapak ini kok tahu saja,” kata istri sambil menjawil suami. Sesudah mereka pergi, saya menemui Said. “Selamat, kamu bebas,” kata saya. “Terima kasih, Bapak,” kata Said. Istrinya senyum-senyum malu.
Damailah RT, damailah Indonesia! Seminggu kemudian Pak Dwiyatmo berdua pulang. Tapi, apa yang terjadi? Petugas Siskamling yang menjemput jimpitan beras mengatakan bahwa mereka mendengar suara “aneh” di rumah (tepatnya di kamar) Pak Dwiyatmo. Siang hari Pak Dwiyatmo menggergaji keranda itu dan menjadikannya meja-kursi. Ini saya tahu karena saya datang untuk mengunjungi mereka yang temanten baru. Saya juga tahu yang lain. Istri baru itu sedang memotong-motong kain putih calon kain kafan Pak Dwiyatmo. “Ya, itulah yang terjadi,” kata Pak Dwiyatmo membenarkan pikiran saya. Lho! Saya sembunyikan keheranan bahwa dia tahu pikiran saya.
Seminggu kemudian Said datang ke rumah. “Coba, Bapak. Kami sedang mau tidur, tiba-tiba dari kamar sebelah, kami mendengar suara-suara. Ah, beta malu mengatakannya.” Sementara itu, petugas Siskamling melaporkan bahwa suara “aneh” itu pindah ke kamar tamu yang berdempetan dengan kamar tidur di rumah sebelah. Klop!
Saya mencoba menyarankan Said untuk melapisi dinding-dinding dengan gipsum yang kedap suara. “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas”. Istrinya menyambung, “Maaf, kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.” Saya usul, “Kalau begitu, bagaimana kalau kamar tamu diubah jadi tempat tidur?” Katanya, “Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi istrinya memintakan maaf suaminya. Kemudian lain hari keluarga Said pergi lagi, meninggalkan surat. “Tolong beri tahu beta kalau tetangga sebelah sudah dipanggil Allah.”
Lain dari biasanya, pagi-pagi saya dapat pergi berjamaah ke masjid. Di sana saya bertemu Pak Dwiyatmo. Subhanallah! Saya terkejut. Ia menoleh dan berkata, “Betul saya Dwiyatmo.” Katanya lagi, “Saya berdosa, saya khilaf, saya bertaubat.” Ia melanjutkan sambil sama-sama jalan pulang, “Orang hidup ini harus seperti iklan. Ia berenang-renang di laut, tapi tak pernah jadi asin.” Saya sedang berpikir mungkin sudah waktu untuk mencari Said dan minta dia kembali ke Jalan “Asmaradana”, ketika orang-orang Siskamling mengatakan bahwa suara-suara “aneh” itu berjalan terus. Itukah “berenang-renang”? Wallahualam. Saya mau menegur Pak Dwiyatmo, tetapi rasanya tidak pas. Menyuruh keduanya berunding untuk menyelesaikan perseteruan diam-diam itu, jangan-jangan malah jadi perseteruan terbuka. Jadi saya hanya bagaimana-bagaimana sendiri.
Walhasil, saya gagal jadi Ketua RT, gagal mendamaikan Pak Dwiyatmo dan Said. Saya, doktor ilmu politik berijazah luar negeri! Entah apa yang akan saya katakan pada Said kalau kebetulan ketemu di kampus. Saya juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja. Saya sangat malu. Leiriza, Luhulima, Tuhuleley, Patirajawane, Raja Hitu, sepertinya semua berwajah Said Tuasikal.
Saya juga gagal memahami Pak Dwiyatmo. Saya sudah pergi ke empat benua untuk belajar, riset, seminar, dan mengajar. Tetapi, bahkan tentang tetangga saya, Pak Dwiyatmo, saya tidak tahu apa-apa. Pak Dwiyatmo, Pak Dwiyatmo. Manusia itu misteri bagi orang lain.
Tiba-tiba saya merasa bodoh, sangat bodoh. *

Yogyakarta, 23 Februari 2004
Sumber: Kompas Minggu, April 2004






Analisis Unsur-unsur Intrinsik dan Aliran Sastra
Dalam Cerpen “Jalan Asmaradana” Karya Kuntowijoyo

A. PENDAHULUAN
Cerpen merupakan salah satu genre sastra selain novel, puisi, hikayat, dan naskah drama. Seperti halnya novel, cerpen dapat dikategorikan sebagai karya prosa fiksi. Cerita pendek sering disebut sebagai cerita rekaan yang relatif pendek karena dapat selesai dibaca dalam satu kali pembacaan. Dalam penyajiannya, cerpen disusun secara cermat dan hemat serta berfokus pada satu pokok permasalahan. Cerpen yang berjudul Jalan Asmaradana memiliki pesan moral yang mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma dalam masyarakat. Nilai-nilai moral yang digunakan dalam cerpen ini tidak bersifat menggurui atau memberatkan, sehingga pesan-pesan moral itu dapat dipahami pembaca atau penikmat sastra dengan baik. Cerpen pemenang Kompas 2005 ini ditulis oleh Kuntowijoyo, Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing Atau Jalan Asmaradana adalah cerpen unik, lugas, yang menceritakan kahidupan di masyarakat dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang akrab di telinga kita. Di dalam cerpen karya Kuntowijoyo ini saling berkaitan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan. Di samping itu cerpen ini juga menarik dan menggoda penulis, karena apresiasinya dari sudut pandang sosial yang tidak jauh dari lingkaran aktivitas sehari-hari kita sebagai makhluk sosial. Untuk mengapresiasi cerpen ini dibutuhkan pendekatan yang mampu menghubungkan karya sastra tersebut dengan situasi sosial tertentu dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan yang sesuai untuk mengapresiasi cerpen ini adalah pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang memusatkan perhatian pada aspek-aspek sosiologis sastra, atau membicarakan “hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat” (Suwignyo, 2008:27). Sementara itu, menurut Marjan (2008) pendekatan sosiologis ini pengertiannya mencakup berbagai pendekatan , masing-masing didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis tertentu, tetapi semua pendekatan itu menunjukkan satu ciri kesamaan, yaitu mempunyai perhatian terhadap sastra sebagai institusi sosial yang diciptakan oleh sastrawan sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, sosiologis cerpen Jalan Asmaradana sebagai karya sastra yang mencerminkan kehidupan nyata dalam masyarakat, akan sangat mudah kita pahami dan kita hayati maksud penulisannya apabila menggunakan pendekatan sosiologis karya sastra. Pendekatan sosiologis dapat menghubungkan antara pengarang sebagai individu atau tipe dengan keadaan yang khas dari era kultural tempat pengarang/ para pengarang itu hidup dan menulis; hubungan antara karya sastra dengan masyarakat yang digambarkannya atau yang dituju (Suwignyo, 1989:37).

B. PEMBAHASAN
Cerpen “Jalan Asmaradana” dalam makalah ini memiliki unsur-unsur intrinsik. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting dalam terbentuknya sebuah cerita. Unsur-unsur tersebut adalah Tema, Alur, Tokoh Penokohan, Latar/Setting, Sudut Pandang, dan Amanat. Di samping itu dalam makalah ini juga di bahas tentang aliran yang masuk ke dalamnya.

1. Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Jalan Asmaradana
a. Tema
Cerpen berjudul Jalan Asmaradana karangan Kuntowijoyo ini merupakan cerpen yang bertema sosial yang didalamya mempunyai masalah akan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat. Cerpen ini dapat kita apresiasi dengan mudah karena memiliki hubungan yang tidak jauh dari kita sebagai pembaca dan masyarakat umum, karena isi dalam cerpen ini membahas tentang kehidupan di masyarakat. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut:
“Memang, para tetangga bilang kalau ada yang aneh pada Pak Dwiyatmo setelah istrinya meninggal. Dia, yang dulu rajin, tidak lagi ke masjid….”(2)
.Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa masalah yang terjadi dalam cerpen tersebut bermula karena keanehan yang dilakukan seorang warga yang membuat para tetangga merasa tidak nyaman sehingga muncul sebuah konflik di dalamnya. Dari situlah tema di temukan.
b. Alur
Cerpen ini menceritakan tentang suasana masyarakat di daerah Perumnas yang padat penduduk, sekaligus padat masalah. Masalah yang terjadi di daerah tersebut tidak jauh dari urusan cinta dan kenyamanan penduduk yang bertetangga. Cerpen berjudul Jalan Asmaradana menggunakan Alur konvensional yaitu waktu dalam cerita berurutan dari periode pertama sampai periode akhir, dengan alur maju yang diceritakan secara beruntun mulai dari perkenalan tokoh utama dan tokoh-tokoh lain sebagai pendukung, hingga adanya penyelesaian masalah. Semua tokoh seolah-olah dihidupkan oleh pengarang cerpen ini. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“…Pagi hari dia akan terlihat membawa cangkul. Kabarnya ia sudah memesan “rumah masa depan” di pekuburan Tegalboyo, di samping kuburan istrinya. Soal liang kubur itu urusan Pak Dwiyatmo, itu HAM…” (hal. 2).
Kemudian di paragraf dilanjutkan :
“Seminggu kemudian Said datang ke rumah. “Coba, Bapak. Kami sedang mau tidur, tiba-tiba dari kamar sebelah, kami mendengar suara-suara. Ah, beta malu mengatakannya…” (hal. 4)
Dalam kutipan di atas alur bergerak secara berurutan karena tidak ada lompatan waktu ke masa lalu, sehingga menggunakan alur maju.
c. Tokoh Penokohan
Dalam cerpen “ Jalan Asmaradana” tokoh utamanya adalah Pak RT, seorang lulusan S3 dari Universitas papan atas di Amerika yang memiliki sikap realistis dan cerdas dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Tokoh pertama yang diceritakan oleh pak RT adalah temannya Nurhasan, yang memandang hidup sebagai suatu tragedi yang selalu tidak menguntungkan bagi orang baik. Ia selalu mengungkapkan bahwa kaum yang lemah tidak pernah mendapat keadilan,hal itu di ungkapkannya dengan pernyatan protes dan sindiran. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut:
…Melihat ada rumah mewah di Perumnas, dia akan bilang, “Lihat orang-orang kaya mendepak keluar orang-orang miskin.” Mendengar ngoeng-ngoeng mobil pejabat, dia akan berkomentar, Dengar itu sang Menteri korup lewat...(hal. 1)
Namun berbeda dengan temannya Kaelani, yang memandang hidup sebagai sebuah lelucon atau komedi yang selayaknya dinikmati dengan santai tanpa harus bersusah-susah memikirkan perlakuan yang secara moral dirasa tidak adil bagi kaum lemah. Semua dijalani sebagai suatu kemakluman terhadap tindakan orang –orang yang hanya mencoba memenuhi kebutuhan hidup, tanpa terkecuali orang yang dipandang baik tetap saja harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup secara materi juga. Hal itu dapat dilihat dalam kutipan berikut:
…Gedung retak, aspal mengelupas, tanah longsor, semua ditertawakannya. “Ya, kalau sudah rusak diproyekkan. Semua orang DPRD, kepala dinas dan tentu saja pembohongnya, eh, pemborongnya”...(hal. 1)
Pak RT kemudian menceritakan tokoh-tokoh pembantu yaitu Said Tuasikal beserta istri yang merupakan warga pendatang di RT-nya dengan sifat keras dan mudah terusik kesabarannya, lalu Pak Dwiyatmo yang memiliki sifat misterius dan sangat sulit berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Selain itu juga ada tokoh lain seperti ibu RT yang selalu setia mendampingi Pak RT dalam menjalankan tugas RT-nya. Tokoh Pak Dwiyatmo yang digambarkan tertutup terhadap orang lain, membuat tokoh Said Tausikal dan istrinya merasa tidak nyaman ketika tinggal dirumahnya sendiri. Istri Said Tuasikal dari budaya Jawa yang dikenal halus dan ramah, sedangkan budaya Ambon yang cenderung keras dan terang-terangan ketika menegur orang lain, tampak bertahan mulai dari awal hingga akhir cerita. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi, istrinya memintakan maaf suaminya. Kemudian lain hari keluarga Said pergi lagi, meninggalkan surat.”Tolong beri tahu beta kalau tetangga sebelah sudah dipanggil Allah.” (hal. 5)
Tokoh-tokoh di atas menghadirkan sifat-sifat yang lengkap, cerita yang dibangun berjalan sangat alami. Hal ini menyebabkan setiap tokoh memiliki karakter yang tidak berubah mulai dari awal hingga akhir cerita. Tokoh saya yang digambarkan sebagai Pak RT yang rendah hati, baik, serta jujur sementara istrinya digambarkan baik dan menurut dengan suami. Tapi Ketua RT dalam hal ini belum mampu membina disiplin yang merupakan salah satu nilai moral terhadap diri pribadi. Ketidakdisiplinan itu membawa dirinya kepada perasaan bersalah. Kesadaran dan kejujuran dari dalam diri inilah yang memberi pelajaran kehidupan bagi kepribadiannya. Tokoh saya sebagai Ketua RT, jujur bahwa dirinya telah gagal untuk mendamaikan perkara dua warganya, yaitu Dwiyatmo dan Said. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut :
“Walhasil, saya gagal jadi Ketua RT, gagal mendamaikan Pak Dwiyatmo dan Said. Saya, doktor ilmu politik berijazah luar negeri! Entah apa yang akan saya katakan pada Said kalau kebetulan ketemu di kampus. Saya juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja. Saya sangat malu.” (hal. 5)
Perasaan malu dan kejujuran yang di miliki tokoh saya dapat diambil sebagai contoh nilai moral untuk diri pribadi. Di samping itu Tokoh saya sebagai ketua RT juga mempunyai moral yang baik kepada warganya. Dia mampu menjaga hubungan baik dengan warganya walaupun dia gagal menjaga hubungan baik antara dua warganya yang berselisih. Ini menunjukkan bahwa ketua RT mempunyai nilai moral yang saling berhubungan antara manusia dengan diri pribadi, dengan lingkungan sosial dan juga dengan tuhan.
d. Latar
Dalam cerpen "Jalan Asmaradana", latar tempat yang digunakan adalah di Perumnas, bagian perumahan dosen. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“Mohon diketahui bahwa selepas tugas belajar saya tinggal di Perumnas, bagian perumahan dosen. Sebagai orang paling terpelajar, saya didaulat teman-teman jadi Ketua RT, menggantikan Pak Trono yang pindah.” (hal. 1)
Juga dalam kutipan berikut :
“Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal tinggal satu kupel, dinding dari asbes menyekat RS mereka yang masih asli itu. Pak Dwiyatmo adalah penghuni lama, Said dan istri menyewa rumah sebelahnya untuk lima tahun sampai selesainya program S3.” (hal. 2)
Sementara itu, latar waktu yang digunakan adalah malam hari, siang hari, pagi hari, dan sore hari. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising. Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok..” (hal. 2)
Juga dalam kutipan berikut :
“Hari Minggu pun pagi-pagi sekali ia akan memikul cangkul, mengunci pintu, siang pulang, mengunci pintu, dan tidur sampai sore.” (hal. 3)
e. Sudut Pandang
Dalam cerpen Jalan Asmaradana menggunakan sudut pandang orang pertama (saya), yang terdapat dalam kutipan berikut :
“Saya terima pekerjaan ini, dengan satu syarat. Ketua RT itu tugas kolektif keluarga. Saya dan istri. Kalau saya di rumah, saya akan aktif, kalau tidak, istri yang mengerjakan.” (hal. 1)
Kemudian menggunakan sudut pandang orang ketiga (dia), yang terdapat dalam kutipan:
“Namun, wong sabrang yang biasanya thok-leh dan bernama Said itu, tak pernah menegur secara langsung Pak Dwiyatmo perihal kelakuannya. Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat menangkap isyarat.”” (hal. 2)
f. Amanat
Dalam cerpen tersebut kita dapat mengambil amanat bahwa dalam hidup bermasyarakat kita harus dapat bersosialisasi yang baik, terutama dengan tetangga. Hal tersebut sangat penting karena berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu sebagai makhluk sosial kita juga harus saling mengerti dan memahami antar sesama agar tidak menimbulkan konflik atau masalah.




2. Aliran sastra yang masuk dalam Cerpen Jalan Asmaradana
Dalam cerpen Jalan Asmaradana terdapat Aliran Realisme. Aliran realisme ialah aliran yang mengemukakan kenyataan yang bersifat obyektif karena pengaranag melukiskan dunia kenyataan. Dalam aliran ini menggambarkan seperti apa yang tampak, tidak kurang dan tidak lebih. Rasa simpati pengarang terhadap obyek yang dilukiskannya, tak boleh disertakannya. Dengan begitu pengarang dalam cerita tidak ikut bermain, dia hanya sebagai penonton yang obyektif. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut :
“Rt 03 Rw 22: Jalan Belimbing Atau Jalan Asmaradana ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram.” (hal. 1)
Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa cerpen jalan asmaradana berada di Rt 03 dan Rw 22: Jalan Blimbing, yang merupakan daerah terjadinya cerita dalam cerpen tersebut.
kemudian :
“Pak Dwiyatmo versus Said Tuasikal di Jalan Belimbing (keluarga kami menyebutnya Jalan “Asmaradana”. Asmara artinya cinta, dana singkatan dari dahana artinya api). Itu adalah tragic-comedy yang mengganggu karier saya sebagai Ketua RT.” (hal. 1)
Kutipan di atas konflik antara Pak Dwiyanto dan Said tausikal seperti tampak nyata, karena nuansa cerita yang digunakan tentang kehidupan sehari – hari, hal itu tidak menutup kemungkinan juga di alami oleh sebagian orang di masyarakat. Dalam cerpen ini melibatkan tokoh secara umum, sehingga pembaca mudah dalam memahaminya.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap unsur Intrinsik dan Aliran Sastra yang terdapat dalam cerpen Jalan Asmaradana dapat disimpulkan bahwa cerpen tersebut bertemakan sosial yang menggunakan alur maju, yang mana tokoh utamanya adalah pak RT dan tokoh pembantu yaitu Said Tuasikal beserta istri, Pak Dwiyatmo, dan ibu RT. Dalam cerpen tersebut latar tempat di Perumnas, bagian perumahan dosen, dan latar waktu saat malam hari, siang hari, pagi hari, dan sore hari. Di samping itu sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang saya dan sudut pandang dia, serta terdapat amanat bahwa dalam hidup bermasyarakat kita harus dapat bersosialisasi yang baik. Aliran yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah Aliran Realisme.

DAFTAR PUSTAKA
file:///E:/aliran-sastra.htm
http://www.scribd.com/doc/25373240/Aliran-sastra
http://id.wikipedia.org/wiki/Kuntowijoyo
Diponegoro, Muhammad. 1985. Yuk, Menulis Cerpen, Yuk. Yogyakarta: Shalahuddin Press.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Faizatur Rohmah - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger