Analisis Novel "RONGGENG DUKUH PARUK" Karya Ahmad Tohari


Pendahuluan
  Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengantar serta refleksinya terhadap gejala-gajala sosial di sekitarnya (Ismanto, 2003: 59).  Oleh karena itu, kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang mencoba menghasilkan pandangan dunianya tentang realitas sosial di sekitarnya untuk menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu.
Pernyataan di atas sesungguhnya mengandung implikasi bahwa sastra adalah sebagai lembaga sosial yang menyuarakan pandangan dunia pengarangnya. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat mempersatukan kelompok sosial masyarakat.
Novel karya ahmad Tohari dengan tema budaya yang berseting perjuangan hidup seorang perempuan berhasil diselesaikan, novel tersebut berjudul “ Ronggeng Dukuh Paruk”. Novel ini berlatarbelakang tentang sebuah kebudayaan di daerah tertentu. Bagaimana pengaruh kebudayaan itu bagi masyarakat. Disamping itu, novel ini menjadi sebuah refleksi bagi kehidupan bermasyarakat, yaitu dipergunakan sebagai literatur dengan pesan-pesan yang ada di dalamnya. Pesan yang berusaha digarap oleh pengarang. Novel yang bertema kebudayaan merupakan satu dari trilogi yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Novel ini mengambil cerita tentang seorang ronggeng dengan kehidupannya dan bagaimana dia di dalam masyarakat. Perjuangan seorang perempuan di dalam meniti pilihan hidupnya.








  1. Pembahasan
Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang bernama Srintil. Novel ini berlatar tempat di Dukuh Paruk. Dukuh Paruk merupakan sebuah kampung terpencil yang merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Dawuhan. Sedangkan, latar waktunya adalah sekitar tahun 1965-an.
  1. Tema
Dari berbagai masalah, novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dapat dikelompokkan menjadi dua masalah pokok, yaitu masalah budaya, adat istiadat dan keterbelakangan. Masalah adat dalam RDP diperjelas seperti dalam kutipan berikut.
Adat Dukuk Paruk mengajarkan, kerja sama antara ketiga laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta, dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut (RDP: 11)


Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa kerja sama yang dilakukan bersama untuk memperoleh suatu tujuan, harus berakhir ketika tujuan tersebut telah dicapai. Hal itu dilakuakan untuk menemukan pemenang, siapa yang layak memperoleh bagian yang lebih banyak dari apa yang diperoleh, dan ketika pemenang ditentukan maka tidak ada protes diantara mereka, karena sudah merupakan adat dari daerah Dukuh Paruk. Menanggapi hal itu dapat disimpilkan bahwa tidak ada budaya gotong royong di RDP, yang ada hanyalah kerja sama kemudian kemudian bersaing untuk menjadi pemenang.
Dari masalah adat ini dapat diangkat tema mayor, yaitu bahwa adat masyarakat Dukuh Paruk merupakan aturan yang harus dilestarikan oleh orang-orang seketurunan Ki Secamenggala yang menjadi nenek moyang masyarakat Dukuh Paruk.
Masalah keterbelakangan daerah dalam RDP terlihat dari kutipan berikut ini.
Entah sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit, serta sumpah serapah cabul menjadi bagiannya yang sah (RDP: 79)


Dari uraian tersebut diketahui bahwa tema pokok dalam RDP, yaitu pertentangan antara keramat Ki Secamenggala dengan kaum terpelajar. Masyarakat Dukuh Paruk yang karena kebodohannya tidak pernah menolak nasib yang diberikan alam, meraka selalu memuja Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di Tengah Dukuh Paruk. Kubur Ki Secamenggala tersebut menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan pola tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana. Hal itu menggambarkan bahwa masyarakat Dukuh Paruk tidak mengalami perkembangan dalam keilmuan, mereka hanya meneruskan tradisi yang diciptakan oleh nenek moyang, yaitu Ki Secamenggala. Budaya tersebut digambarkan pengarang dalam novel ini dengan mengangkat tema budaya ronggeng yang tidak dapat terpisahkan dari dukuh paruk.
Pengarang menjadikan Dukuh Paruk pendukuhan yang terkenal dengan dunia peronggengan. Dukuh paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk karena ronggeng merupakan ciri khas dari pendukuhan Dukuh paruk. Ronggeng yang diceritakan dalam novel tersebut bernama srintil. Dari awal Bab di Novel menceritakan dari srintil masih kecil hingga dia menjadi Ronggeng Dukuh Paruk, dia dipercaya sebagai seorang ronggeng sejati yang kemasukan indang ronggeng. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Selain itu ada kepercayaan bahwa srintil dilahirkan di Dukuh Paruk atas restu arwah Ki Secemenggala dengan tugas menjadi Ronggeng. Sehingga dapat disimpulkan Dukuh Paruk hanya lengkap ketika ada keramat ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan khusunya ada ronggeng bersama perangkat calungnya.
  1. Latar
  1. Latar Tempat
Novel RDP berlatar utama di pendukuhan yang bernama Dukuh Paruk. Latar tempat ini terlihat dalam kutipan berikut.
Dua pululuh tiga rumah berada di pendukuhan itu, di huni oleh orang-orang seketurunan. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya (RDP: 10)


Dari kutipan diatas dapat diketahui bahwa latar tempat di dalam rumah novel RDP terjadi di Dukuh Paruk sedangkan latar tempat di luar rumah tidak ditemukan dalam novel. Adanya dua puluh tiga rumah di pendukuhan menggambarkan bahwa Dukuh Paruk merupakan pemukiman kecil yang keberadaannya ditempat terpencil. Dari kutipan diatas juga terlihat jelas bahwa masyarakat Dukuh Paruk dihuni oleh masyarakat seketurunan, yang mana Ki Secamenggala adalah orang pertama yang tinggal di Dukuh Paruk menjadi nenek moyang mereka. Latar utama yang terjadi di Dukuh paruk memunculkan latar pendukung. Hal ini terdapat dalam latar berikut.
  1. Di tepi kampung
Di tepi kampung ini menjadi latar rasus dan temannya Darsun dan Warta mencabut batang singkong yang menjadi cerita pertama yang terdapat dalam novel (RDP: 10).
  1. Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka
Tempat tersebut merupakan tempat srintil sering bermain dengan mendedangkan lagu kebanggan para ronggeng. Selain itu di bawah pohon nangka srintil sering menari dan bertembang (RDP: 13).
  1. Di halaman rumah Kartareja
Tempat ini menjadi bagian dari upacara sacral yang dipersembahkan kepada leluhur Dukuh Paruk sebelum menuju pekuburan dukuh paruk (RDP: 45)
  1. Di Pekuburan Ki Secamenggala
Latar ini syarat srintil untuk menjadi seorang ronggeng yaitu srintil melakukan upacara pemandian di pekuburan ki secamenggala (RDP: 46)
  1. Pasar Dawuan
Tempat ini adalah tempat yang dituju rasus ketika meninggalkan Dukuh paruk. Hal ini secara implicit terdapat dalam kutipan berikut.
Sampai hari-hari pertama aku menghuni pasar Dawuan, aku menganggap nilai-nilai yang kubawa dari Dukuh Paruk secara umum berlaku pula di semua tempat (RDP: 84).”


Kutipan diatas menggambarkan bahwa ketika rasus meninggalkan Dukuh Paruk, dia menghabiskan hari-harinya di pasar Dawuan sebagai pengupas singkong. Dengan pekerjaan itu rasus dapat bertahan hidup dari mendapatkan upah pedagang singkong. Tapi tak kemudian dia menjadi seorang tobang.
  1. Di Hutan
Tempat ini menjadi tempat berburu Rasus, Sersan slamet dan Kopral Pujo (RDP: 95)
  1. Di Rumah Sakarya
Latar ini menjadi tempat pertama yang di datangi oleh perampok ketika ingin merampok harta milik srintil, tapi saat itu srinti sedang berada di rumah kartareja, hingga akhirnya perampok berbelok ke rumah kartareja (RDP: 101)
  1. Di Beranda Rumah Nenek Rasus
Tempat ini menggambarkan ketika rasus pulang kerumah neneknya ketika dia selesai menangkap perampok yang ada di Dukuh Paruk, tapi kemudian di kembali menjadi tobang (RDP: 103)
  1. Latar Waktu
Dukuh Paruk adalah pemukiman di tengah hamparan sawah yang luas terdapat dua puluh tiga rumah, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Cerita dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tidak punya tanggal tapi novel trilogi ini terjadi tahun 1965. Hal ini tercermin ketika srintil terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965. Sedang latar terjadinya peristiwa kematian sebagian warga Dukuh Paruk akibat keracunan tempe bongkrek terjadi tahun 1946. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saai itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1964. Semua penghuni pendukuhan itu telah tidur pulas, kecuali santayib, ayah srintil (RDP: 21).


Kutipan diatas mengambarkan bahwa kematian sebagian masyarakat Dukuh paruk terjadi pada 1946 yang mana saat saat itu srintil masih kecil. Dalam novel ini seseorang yang disalahkan atas terjadinya kematian masyarakat Dukuh paruk akibat tempe bongkrek ada santayib. Pengarang sengaja mengahadirkan cerita ini untuk menggambarkan pembaca dengan bencana yang pernah menimpa Dukuh Paruk, serta mengingatkan ronggeng terakhir di Dukuh Paruk yang mati ketika srintil masih kecil, yang kemudian ronggeng tersebut digantikan oleh srintil.
Latar waktu dalam novel RDP juga terjadi tahun 1960. Hal ini tergambar pada kutipan berikut.
Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak aman. Perampok dengan kekerasan senjata sering terjadi. Tidak jarang perampok membakar rumah korbannya (RDP: 90).


Kutipan di atas menggambarkan peristiwa fenomenal yang terjadi dalam novel RDP tidak hanya kematian akibat tempe bongkrek, tapi peristiwa perampokan yang terjadi di Dawuan. Peristiwa tersebut masyarakat Dawuan khususnya dan rasus tokoh pendatang dari Dukuh Paruk.
Adapun Latar waktu yang tergambar dari novel Ronggeng Dukuh paruk diantaranya sebagai berikut.
  1. Sore hari
Waktu ini tergambar dari kutipan berikut.
Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nagnka itu belanjut sampai matahari menyentuh garis cakrawala (RDP: 14).


Kutipan diatas menceritakan tentang Rasus, Darsun, dan warta ketika mengiringi srintil menari hingga sore hari. Pengarang menggambarkan waktu ini dengan bahasa yang sederhana yaitu “matahari menyentuh garis cakrawala”.
  1. Tengah malam
Waktu tengah malam tergambar dari kutipan berikut.
Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946 (RDP:21).


Kutipan diatas mengambarkan malam sebelum terjadinya keracunan tempe bongkrek yang dialami masyarakat Dukuh Paruk. Waktu yang ditegaskan dalam kutipan di atas adalah tengah malam, yang mana waktu tersebut menjadi latar waktu dalam novel ini.


  1. Tengah hari (Siang)
Latar waktu tengah hari terlihat dalam kutipan berikut.
Namun semuanya berubah menjelang tengah hari. Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil memegangi perut (RDP: 24)


Kutipan di atas menegaskan bahwa racun dalam tempe bongkrek mulai bereaksi ketika tengah hari dimana setelah masyarakat Dukuh Paruk selesai melakukan aktivitas di sawah. Dalam kutipan tersebut latar waktu yang terjadi tengah hari.
  1. Pagi
Latar waktu pagi digambarkan dalam kutipan berikut.


Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis khatulistiwa. Angin tenggara tidak lagi bertiup (RDP:44)


Kutipan di atas merupakan salah satu latar dalam novel RDP ketika waktu pagi, yang menggambarkan waktu pagi telah terasa.
  1. Malam hari
Waktu malam hari tergambar dari kutipan berikut.
Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas.
Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa waktu terjadinya ketika malam hari. Dengan adanya kata gelap yang memperjelas latar waktu tersebut.
Latar waktu yang disebutkan di atas merupakan waktu yang terdapat dalam novel RDP, sebenarnya dari latar waktu tersebut ada yang lebih dari satu. Tapi penulis hanya mengambil salah satu sebagai perwakilan.


  1. Tokoh dan Penokohan
Novel Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan gaya penokohan naratif, yaitu cara mendeskripsikan watak tokoh cerita yang diambil alih oleh seorang pencerita tunggal, yaitu Rasus. Dalam novel RDP, pencerita memaparkan watak tokoh-tokoh cerita dan menambahkan komentar tentang watak tersebut.
  1. Tokoh utama
Tokoh utama dalam novel RDP adalah Rasus, pengarang menampilkan rasus sebagai narrator dalam peristiwa novel RDP sedang srintil ditampilkan sebagai tokoh yang diceritakan Rasus. Tokoh Rasus merupakan tokoh yang serba tahu akan segala peristiwa dalam cerita itu.
Rasus dilukiskan sebagai seorang pemuda rakyat biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan, tinggal di daerah terpencil yang mempunayi status rendah, kurang pengetahuan serta mudah rapuh. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi-lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadiaku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung! (RDP: 53)


Dalam kutipan di atas watak rapuh Rasus tampak jelas dalam pengakuannya bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh ketidakmampuannya melawan hukum pasti di Dukuh Paruk yang harus dilakukan seorang ronggeng yaitu malam bukak-klambu. Rasus harus merelakan orang yang dicintainya yaitu srintil untuk menyelesaikan persyaratan terakhir menjadi seorang ronggeng yang bernama bukak-klambu. Menghadapi hal itu rarus tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya dapat pasrah pada apa yang akan terjadi pada srintil.
  1. Tokoh Pembantu Utama
Tokoh pembantu utama dalam novel RDP adalah srintil, pengarang menggambarkan srintil sebagai seorang ronggeng yang cantik berperawakan menarik serta perempuan yang sempurna fisiknya yang dianggap sebagai titisan dari Ki Secamanggala. Kutipan berikut memperlihatkan kecantikan srintil serta kesempurnaan fisik yang dimilikinya.
Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka. (RDP: 18)

Pengarang dalam kutipan di atas menampilkan tokoh utama Srintil sebagai seorang ronggeng yang sempurna, yaitu dengan kecantikan dan fisik yang dimilikinya. Srintil yang sebelumnya hanya anak Dukuh Paruk biasa yang tidak mempunyai status kebangsaan dijadikan pengarang sebagai perempuan mempunyai status yang tinggi ketika menjadi ronggeng. Hal tersebut menimbulkan perubahan watak yang dimiliki Srintil. Dulu srintil yang sering bermain bersama Rasus, Warta dan Darsun tapi setelah menjadi seorang ronggeng dia sudah tidak ada waktu untuk bermain bersama mereka. Dari situ sangat terlihat perubahan sifat srintil.
  1. Tokoh Bawahan
Tokoh bawahan menurut Grimes (dalam panuti Sudjiman, 1988: 19), merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Dalam novel RDP memiliki sembilan tokoh bawahan dari analisis novel yang dilakukan. Tokoh bawahan dalam novel RDP diantaranya:
  1. Santayib memiliki sifat keras, tidak mudah putus asa, dan penyayang.
  2. Istri santayib mempunyai sifat baik, patuh, dan penyayang.
  3. Nenek Rasus, memiliki sifat penyayang, sabar dan pikun.
  4. Sakarya, (kakek Srintil) memiliki sifat kolot, keras, dan penyayang
  5.  Nyai Sakarya (nenek Srintil) mempunyai sifat penyayang, penyabar dan peduli kepada orang lain (tetangga), namun dia tetap tunduk pada nasibnya sebagai rakyat kecil.
  6. Sakum memiliki sifat tekun,baik, optimis akan hidupnya,.
  7. Ki Kertareja memiliki sifat kolot, keras, penyayang, licik.
  8. Nyai Kartareja memiliki sifat materialistis, pandai membujuk dan licik.
  9. Sersan Pujo mempunyai sifat baik dan tegas.
  1. Alur Cerita
Cerita dalam novel RDP di buku pertama yang berjudul Catatan Buat Emak terdapat 4 bab. Bagian pertama novel RDP diawali dengan peristiwa yang menunjukkan alur mundur, yaitu peristiwa malapetaka yang terjadi di Dukuh paruk akibat keracunan tempe bongkrek. Hal ini tergambar dari kutipan berikut.
Sebelas tahun yang lalu ketika srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman yang kecil itu lengang, amat lengang. (RDP: 21)


Kutipan di atas memberi gambaran bahwa kejadian malapetaka yang membunuh sebagian masyarakat Dukuh Paruk akibat keracunan tempe bongkrek terjadi sebelas tahun yang lalu yaitu ketika srintil masih kecil. Kutipan di atas juga menjadi paragraf awal novel dalam penceritaan tentang malapetaka tempe bongkrek. Sehingga dapat diketahui bahwa penceritaan tentang malapetaka tempe bongkrek dalam novel menggunakan alur mundur.
Sedangkan pada bagian kedua dan seterusnya menggunakan alur maju yang menceritakan tentang inti dari cerita novel RDP, yaitu kisah Srintil dengan Rasus dan kisah Srintil yang menjadi Ronggeng baru setelah tidak adanya Ronggeng selama 11 tahun serta kebingungan rasus akan asal-usul ibunya yang menghilang sejak ia kecil. Adanya alur maju terlihat dari kutipan berikut.
Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih ada dua tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang ronggeng yang sebenarnya. (RDP: 43)


Kutipan di atas menjelaskan tentang srintil yang sudah menjadi ronggeng. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa alur begerak maju sampai akhir cerita, yaitu dari srintil yang dulunya masih kecil saat malapetaka tempe bongkrek dan sekarang sudah berusia 11 tahun menjadi seorang ronggeng.
Tahap-tahap alur perkembangan alur secara rinci terdiri dari lima bagian sebagai berikut.
1) Perkenalan
Perkenalan dalam novel RDP pada buku pertama yang berjudul Catatan Buat Emak terdapat 4 bab. Dalam bab pertama Rasus, srintil, santayib, dan sakarya diperkenalkan, bab pertama menceritakan tentang kehidupan rasus dan srintil ketika masih kecil yang harus di tinggal oleh kedua orang tua mereka karena peristiwa keracunan tempe bongkrek yang menimpa warga Dukuh Paruk. Kemudian pada bab kedua menceritakan perihal kematian Emak rasus dan kehidupan Ki Secamenggala, dalam bab dua emak rasus, nenek rasus, kartareja, Nyai kartareja diperkenalkan. Dalam bab ketiga membicarakan tentang sayembara bukak klambu, bab ini Dower dan Sulam diperkenalkan. Pada bab keempat tokoh utama dibicarakan, dalam bab ini Sersan slamet dan Kopral Pujo diperkenlakan.
2) Timbulnya Konflik
Konflik utama Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu malapetaka keracunan tempe bongkrek yang membunuh sebagian masyarakat Dukuh Paruk termasuk kematian ronggeng Dukuh paruk yang terakhir serta penabuh gendang. Rasus sebagai tokoh utama yang juga mengalami malapetaka tersebut. Munculnya konflik lain ditandai ketika srintil mulai menjadi ronggeng baru, saat itu kehidupan srintil mulai berubah. Dari yang dulunya sering bermain bersama Rasus, Warta, Darsun, tapi setelah menjadi ronggeng dia sudah tidak ada waktu untuk bermain. Menanggapi hal itu Rasus mulai renggang dengan srintil, wanita yang disukainya.
  1. Peningkatan konflik
Konflik meningkat pada bab dua dan tiga. Konflik utama dikembangkan dengan kuat pada bab tiga, yaitu ketika srintil harus menyelesaikan syarat terakhir menjadi seorang ronggeng, syarat terakhir yang harus dipenuhi itu bernama bukak-klambu. Sebuah syarat yang akan menggoyahkan hubungan Rasus dan Srintil. Hal itu memunculkan kebencian yang mendalam bagi rasus atas semua kebudayaan yang ada di Dukuh paruk.
  1. Klimaks
Puncak permasalahan terjadi ketika srintil telah menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk. Itu tandanya srintil menjadi milik orang banyak dan rasus sebagai seorang laki-laki yang menyukainya harus merelakan.
  1. Pemecahan masalah atau Penyelesaian
Penyelesaian bagian pertama novel RDP yaitu ketika Rasus pergi meninggalkan Dukuh. Rasus merasa dukuh paruk bertindak semena-mena dan hanya menciptakan kesengsaraan baginya. Sebagai seorang anak yang menghubungkan diri emaknya dengan diri srintil, Dukuh Paruk membuat noda dalam hidupnya. Kepergian Rasus untuk menentukan pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan itulah yang nantinya akan mengubah segalanya, tentang Srintil, asal-usul ibunya, dan juga tujuan hidupnya.
Berdasarkan tahap-tahap alur yang diuraikan di atas dapat disimpulkan alur yang terdapat dalam novel RDP buku pertama Catatan Buat Emak menggunakan alur campuran.


  1. Sudut Pandang
Berdasarkan beberapa pandangan tentang pusat pengisahan, dapat diperoleh gambaran bahwa ada beberapa kemungkinan yang dapat dipergunakan oleh pengarang dalam menceritakan ceritanya melalui pusat pengisahan, seperti halnya dalam novel RDP pada bagian pertama menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.
Ia merasa srintil telah menjadi milik semua orang Dukuh Paruk. Rasus cemas tidak bisa lagi bermain sepuasnya dengan Srintil di bawah pohon nangka. Tetapi Rasus tak berkata apapun. (RDP: 20)


Pengarang dalam kutipan di atas ikut terlibat dalam cerita sekaligus sebagai pengamat. Penggunaan orang ketiga dalam novel ini dapat dikatakan logis, dalam gaya penceritaan orang ketiga serta serba tahu karena pengarang berada di luar cerita, pengarang mengetahui batin tokoh utama, seperti tokoh Rasus ketika menyaksikan pentas menari srintil. Pengarang seperti ikut merasakan apa yang dirasakan Rasus, yaitu perasaan hati Rasus.
Sedangkan pada bagian kedua sampai seterusnya ditampilkan dengan Sudut pandang orang pertama pelaku utama, yaitu Rasus yang di sebut “aku”. “Aku” yang bercerita dalam novel RDP mempunyai dua kemungkinan. Pertama, “aku” pencerita yang berkedudukan sebagai pengarang yang menyusun cerita. Kedua, “aku” tokoh utama yang mempunyai kedudukan yang dominan pada cerita.
Penggunaan sudut pandang orang pertama pelaku utama terlihat jelas dalam kutipan berikut.
Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh paruk. Ketika kartareja bercakap-cakap dengan Dower, aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di luar rumah. (RDP: 59-60)


Pada kutipan di atas ditunjukkan dengan tidak adanya komentar pengarang dalam cerita. Tokoh utama bercerita tentang dirinya sendiri melalui tingkah laku yang diperankannya. Disamping itu, dari pemahaman tokoh aku tentang Dukuh Paruk memperkuat dugaan sedut pandang pada bab dua sampai empat menggunakan orang pertama pelaku utama.


  1. Simbol
Dalam nover RDP karya Ahmad Tohari terdapat beberapa symbol. Simbol-simbol tersebut diciptakan pengarang sebagai gambaran ide, pikiran, atau perasaannya. Simbol itulah yang harus ditafsirkan atau dimaknai sendiri oleh pembaca. Simbol-simbol yang akan dibahas dalam kajian kali ini adalah sebagai bdrikut.
  1. Pegeblug
Pagebluk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti wabah (penyakit), tapi dalam novel RDP diartikan kejadian yang terjadi karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Pemaknaan kata Pegeblug sebagai kutuk roh Ki Secamenggala didasarkan pada kutipan berikut.
Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah Pegeblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!” (RDP: 26)

Kutipan di atas menjelaskan makna arti Pegeblug dalam novel RDP. Dari situ dapat diketahui bahwa Pegeblug dalam novel RDP adalah sebuah simbol yang digunakan untuk mewakili kutuk roh Ki Secamenggala.
  1. Bukak-klambu
Bukak-klambu merupakan sebuah frasa dalam bahsa jawa yang terdiri atas dua kata yaitu bukak dan klambu. Bukak dalam bahasa jawa yang diindonesiaka berarti membuka. Sementara klambu juga kata yang berasal dari bahasa jawa, yang ketika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah sebuah kain lebar yang menutupi ranjang tempat tidur. Sehingga frasa “Bukak-klambu”dapat diartikan sebagai membuka kain yang menutupi ranjang. Namun, dalam cerpen RDP, Bukak-klambu
bukanlah membuka kain yang menutupi ranjang melainkan semacap sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati viginitas itu. Hal itu ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Memenangkan sayembara Bukak-klambu bukan hanya menyangkut renjana berahi. (RDP: 57)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa Bukak-klambu sebuah simbol yang terdapat dalam novel RDP yang memiliki makna yaitu malam yang harus dijalani seorang ronggeng bersama laki-laki sebagai persyaratan terakhir menjadi seorang ronggeng.
  1. Sumpah serapah
Sumpah serapah dalam novel RDP karya ahmad Tohari merupakan sebuah simbol. Sumpah serapah merupakan gabungan dari dua kata yaitu kata sumpah dan serapah. sumpah dalam Kamus Besar Bahsa Indonesia berarti pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya). Sementara serapah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti kutuk atau kutukan.
Namun, dalam novel RDP, sumpah serapah merupakan sebuah simbol yang berarti perkataan kotor. Pemaknaan ini didasarkan pada kutipan teks di bawah ini.
Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! Pikirku. (RDP: 51)

Kutipan di atas menggambarkan sumpah serapah yang diartikan perkataan kotor. Pengarang dalam kutipan tersebut menggunakan kata “bajingan” dan “bajul buntung” sebagai wujud dari perkataan kotor yang dalam novel RDP disebut sumpah serapah. Sehingga dapat diketahui bahwa simbol sumpah serapah dalam novel mewakili perkataan kotor yang terdapat dalam novel RDP.
  1. Ironi
Ironi memiliki arti sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Dalam novel RDP terdapat beberapa ironi.
Pada akhir permainan, rasus, warta, dan darsun minta upah. Kali ini mereka yang berebut menciumi pipi srintil. Perawan kecil iti melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng. (RDP: 14)


Kutipan di atas menggambarkan kehidupan di Dukuh Paruk begitu bebas, tidak ada tatakrama yang berlaku, jika hal tersebut dikaitkan dengan zaman sekarang, memunculkan kontradiksi. Di dukuh Paruk upah yang didapatkan dengan ciuman pipi merupakan hal yang wajar tapi jika hal tersebut dilakukan di zaman sekarang sangat betentangan dengan harga diri. Pertentangan kehidupan juga terlihat dalamkutipan berikut.
Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pila istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun berahinya. (RDP: 39)


Kutipan di atas juga menggambarkan perilaku yang bertentangan dengan kehidupan sekarang, yaitu seorang istri yang merasa senang ketika suaminya dapat bertayub(menari) dengan seorang ronggeng. Menanggapi hal tersebut, seorang ronggeng ketika pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk.
Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kehidupan sekarang. Di zaman sekarang ketika seorang suami menari dengan wanita selain istrinya akan mendapat tuduhan selingkuh. Selain itu, Kehidupan ronggeng Dukuh Paruk yang sangat mewah pada zamannya dikaitkan dengan kehidupan ronggeng zaman sekarang yang akan menari ketika ada acara-acara tertentu.


  1. Nilai dan Moral
Nilai yang terkandung dalam novel RDP yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyatrakat, peradaban, atau kebudayaan. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Orang-orang yang sudah berkumpul hendak melihat Srintil menari mulai gelisah. Mereka sudah begitu rindu akan suara calung. Belasan tahun lamanya mereka tidak melihat pagelaran ronggeng. (RDP: 19)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Dukuh Paruk begitu erat dengan budaya pertunjukkan ronggeng. Adanya ronggeng merupakan pemersatu masyarakat yang ada di Dukuh Paruk. Nilai budaya yang terdapat dalam novel juga sangat erat dengan adat yang ada di Dukuh paruk.
Dukuh Paruk yang identik dengan adanya ronggeng juga mengaitkan budayanya dengan perilaku masyarakat, pertunjukkan ronggeng yang dihadirkan dalam novel menimbulkan perilaku yang kurang dapat diterima di masyarakat sekarang. Misalnya Dukuh Paruk dengan kemelaratannya, keterbelakangannya, kebodohannya tanpa pengetahuan, di Dukuh paruk hal seperti sudah biasa.
Sedangkan moral yang terdapat dalam novel RDP yaitu moral yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran adat yang menguasai peputaran manusia atau disebut moral terapan. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.
Di belakangku Dukuh Paruh diam membisu. Namun segalanya masih utuh di sana: keramat Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah serapah, irama calung, dan seorang ronggeng. (RDP: 107)


Melalui kutipan di atas pengarang melukiskan kehidupan masyarakat yang masih berada dalam alam pikiran mitis, miskin, longgar tatanan moralnya, dan ronggeng. Kutipan di atas menggambarkan bagaimana moral yang tercipta di Dukuh paruk. Dengan kemelaratan yang turun temurun tidak menumbuhkan semangat masyarakat Dukuh Paruk untuk memperbaiki hidup. Tapi walaupun begitu kehidupan mereka sangat bergantung pada pertunjukkan ronggeng yang menghasilkan kesenangan pribadi.
Tingkah laku masyarakat Dukuh Paruk yang biasa dengan sumpah serapah mencerminkan kebiasaan yang dinilai tidak baik. Sehinggan moral yang terdapat dalam novel RDP banyak membahas tentang bentuk moral etika, yaitu membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.

Penutup

Secara analisis, novel Ronggeng dukuh Paruk dapat menambah pemahaman kepada pembaca dalam menemukan unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik cerpen. Unsur novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dianalisi yaitu tema, latar, penokohan dan perwatakan, alur, sudut pandang, simbol, ironi, dan nilai moral dalam novel.
Tema pokok dalam RDP, yaitu pertentangan antara keramat Ki Secamenggala dengan kaum terpelajar. Latar yang terjadi di Dukuh paruk. Tokoh utama Rasus dan tokoh pembantu utama Srintil. Alur yang terjadi alur campuran dengan menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Simbol yang dimunculkan yaitu bukak-klambu, sumpah serapah, dan pegeblug. Ironi yang di gambarkan tentang kontradiksi dengan kehidupan sekarang, serta nilai moral tergambar kurang baik.






































Sinopsis Novel ”Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari
Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan miskin. Namun,warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan hidupnya. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk sehingga lenyaplah gairah dan semangat kehidupan masyarakat setempat. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng ketika bermain-main bersama Rasus, Warta, Darsun.
Permainan menari itu terlihat oleh kakek Srintil, Sakarya, yang kemudian mereka sadar bahwa cucunya sungguh berbakat menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan itulah, Sakarya menyerahkan Srintil kepada dukun ronggeng Kartareja. Dengan harapan kelak Srintil menjadi seorang ronggeng yang diakui oleh masyarakat. Dalam waktu singkat, Srintil pun membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri dan selanjutnya dia pun berstatus gadis pilihan yang menjadi milik masyarakat.
Sebagai seorang ronggeng yang sah, Srintil harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya adalah menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapa pun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal. Meskipun Srintil sendiri merasa ngeri, tak ada kekuatan dan keberanian untuk menolaknya. Srintil telah terlibat atau larut dalam kekuasaan sebuah tradisi, di sisi lain, Rasus yang mencintai gadis itu tidak bisa berbuat banyak setelah Srintil resmi menjadi ronggeng yang dianggap milik orang banyak. Oleh karena itu, Rasus memilih pergi meninggalkan Srintil sendirian di Dukuh Paruk.
Kepergian Rasus ternyata meninggalkan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk menuju pasar Dawuan,dan tempat itulah Rasus mengalami perubahan garis perjalanan hidupnya dari seorang remaja dusun yang miskin dan buta huruf menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah setelah terlebih dahulu menjadi tobang. Dengan ketentaraannya itulah kemudian Rasus memperoleh penghormatan dan penghargaan seluruh orang Dukuh Paruk, lebih-lebih setelah berhasil menembak dua orang perampok yang berniat menjarah rumah Kartareja yang menyimpan harta kekayaan ronggeng Srintil.
Beberapa hari singgah di Dukuh Paruk Rasus sempat menikmati kemanjaan dan keperempuanan Srintil sepenuhnya. Tapi itu semua tidak menggoyahkan tekadnya yang bulat untuk menjauhi Srintil dan dukuhnya yang miskin. Pada saat fajar, Rasus melangkah gagah tanpa berpamitan pada Srintil yang masih pulas tidurnya. Kepergian Rasus tanpa pamit sangat mengejutkan dan menyadarkan Srintil bahwa ternyata tidak semua lelaki dapat ditundukkan oleh seorang ronggeng. Setelah kejadian itu Srintil setiap hari tampak murung dan sikap Srintil menimbulkan keheranan orang-orang disekitarnya. Kebanyakan mereka tidak senang menyaksikan kemurungan Srintil, sebab mereka tetap percaya ronggeng Srintil telah menjadi simbol kehidupan Dukuh Paruk.




Daftar Rujukan:
Tohari, A. 2004. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ekasiswanto, R. dan Sugihastuti. 1999. Teori Prosa Indonesia. Yogyakarta: ……


Cerpen "NAKAL"

Siap tidak siap kamu harus tinggal di pesantren”
Tapi, yah.”
Aku sebenarnya enggan mengiyakan permintaan ayah. Kalau bukan karena perintah ibu, mungkin aku sudah membantah. Ayah terlalu terburu-buru mendaftarkan aku di pesantren. Bayangkan aku masih kelas tiga Sekolah Dasar, usia yang seharusnya aku gunakan untuk bersenang-senang dan mulai mengenal hal yang baru. Tapi aku tak pernah menolak keinginan ibu karena itu aku menurut saja dengan apa yang dikatakan ayah.
Aku anak kdtiga dari empat bersaudara. Kata ibu aku berbeda dengan ketiga saudaraku. Kakak perempuanku memiliki wajah yang mirip dengan ayah, kakak laki-laki memiliki sifat seperti ibu, sedang adikku memiliki karakter seperti ayah. Aku memiliki kulit yang hitam, tubuh yang pendek, dan wajahku tidak mirip sedikitpun dengan ayah dan ibu. Begitulah kenapa aku dinilai berbeda dengan keluargaku.Walaupun begitu, aku tidak pernah berpikir untuk merubah sifatku, karena aku merasa bangga dengan aku yang seperti ini
Dulu ketika aku duduk ditaman kanak-kanak sifat nakal sudah mulai tumbuh dalam diriku. Di rumah aku sering membuat masalah. Misalnya menambahkan garam yang banyak pada masakan ibu, mengambil uang belanja ibu di kotak plastik di dalam lemari dapur, mengotori rumah dengan kertas yang aku bentuk pesawat, burung, dan sejenisnya, menyembunyikan seragam milik kakak perempuanku ketika dia hendak bersiap-siap ke sekolah, menyuruh adikku mencoret-coret tembok dan mengempesi ban sepeda motor ayah ketika akan berangkat bekerja.
Kenakalanku berkanjut ketika aku duduk di Sekolah Dasar, aku semakin menjadi-jadi. Semua orang mungkin merasa sangat terganggu dengan adanya aku. Di sekolah aku pernah memberi lem di kursi guru, menaruh tikus di celah bangku teman-teman, mengajak teman laki-laki bertengkar dan taruhan, membuat keributan ketika pelajaran berlangsung, menggoda teman perempuan, menantang kakak kelas adu kejantanan, dan masih banyak masalah-masalah yang kubuat. Aku selalu mecari celah untuk membuat masalah. Banyak sekali hal buruk yang aku lakukan yang membuat jengkel keluargaku. Bahkan aku sering dimarahi tetangga akibat ulahku, dan tak jarang pula guru-guruku memberikan hukuman padaku. Tapi, aku tak merasa malu – tak sedikitpun – merasa malu dengan masalah yang kubuat.
Menurutku nakal adalah suatu prestasi yang tidak dimiliki semua orang. Banyak orang takut dengan orang nakal karena itu aku tak pernah malu menjadi anak nakal. Nakal adalah suatu kebanggaan yang harus dilakukan seumur hidup sekali. Itu yang ada dibenakku.
Mungkin itu alasan ayah memasukkan aku kepesantren di usiaku yang masih belia. Agar aku bisa berubah dan tidak merepotkan orang tua serta orang disekitarku karena sifat burukku.
Di pesantren mana aku akan tinggal?”
Nanti ketika sampai di sana kamu akan tahu, pokoknya di daerah Ponorogo.”
Dan, berangkatlah kami dari kampung dengan becak menuju terminal bus. Barang yang kami bawa adalah perlengkapanku selama di Pesantren terutama oleh-oleh buat Kyai. Aku hanya diantar ayah karena ibu harus menjaga adik di rumah dan kakakku harus berangkat sekolah. Ayah membawa kardus isi pakaian dan tas ransel besar isi buku. Tangan kananku sekardus wingko yang dibungkus plastik, sedang tangan kiriku sebotol air putih.
Terminal, berapa?” ayah menawar becak. Aku tak tahu kemana kita akan pergi. Baru ketika di becak, kedua kaki menumpang di atas kardus isi pakaian, memangku sekardus wingko, ayah berkata.
Teman ayah bilang, kita hanya memberikan alamat ini ke kernet bus, nanti kernet akan memberi petunjuk jalan pada kita”. Saat itu aku baru tahu ternyata ayah juga belum tahu pesantren yang akan aku tempati nanti selama enam tahun ke depan.
Dalam perjalanan, kepalaku sangat pusing. Sopir yang ugal-ugalan membuat semua penumpang was-was. Ayahku sudah tertidur pulas dengan tas ransel besar dipangkuannya. Aku pun menyamakan diri seperti ayah.
Ponorogo…Ponorogo…Ponorogo…”
Ponorogo pak”, kernet membangunkan ayah. Dengan refleks aku dan ayah langsung terbangun. Sebelum keluar dari bus, kernet memberi arah jalan yang harus dilewati.
Pintu keluar terminal Ponorogo begitu jauh dari bus kami, sehingga beban di tangaku serasa sangat berat. Sedangkan ayah dengan beban yang lebih berat di belakangku, aku berjalan secepat mungkin mengikuti arus orang.
Ju! Tunggu ayah!” teriak ayah. Aku terus berjalan mengikuti arus orang tanpa menghiraukan ayah, pikiran nakalku kembali terbersit. Aku menghilangkan diri dari ayah agar ayah kerepotan mencariku.
Ayaaaaaaaaah” teriakku ke arah ayah ketika aku sampai di pintu keluar. Aku tertawa melihat ayah yang bingung mencari asal suaraku. Hingga akhirnya ayah menyadari keberadaanku, aku hendak berlari lagi, namun tiba-tiba Praaak, sebongkah kayu besar menghantam kepalaku membuatku terjatuh. Saat itu kepalaku langsung terasa berat, namun aku masih menyadari ketika ayah berteriak menyebut namaku bersamaan dengan orang asing yang merebut tas di tanganku dan langsung berlari.
Ketika aku sadarkan diri, aku sudah berada di atas kasur dengan warna ruangan dan perlengkapan serba putih, kepalaku diperban.
Ayah” aku memanggil ayah yang berada disampingku.
Ju, kamu sudah sadar nak?”
Aku dimana yah? Aku kenapa?”
Ini di rumah sakit. Sudah, kamu istirahat saja dulu, kepalamu pasti masih sakit” ayahku tersenyum, dengan matanya yang sembab dan wajah yang tak ceria, aku tahu bahwa ayah sangat menghawatirkanku. Aku terdiam, mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Dengan kepala yang terasa sangat berat, aku meyadari semua ini adalah akibat ulah nakalku yang tak bisa ku kendalikan, dalam pikiranku terpikir ada keinginan untuk merubah diri. Terasa sudah bosan mendengarkan orang tua dan tetangga-tetanggaku yang sering memarahiku. Aku ingin memulai hidup baru yang lebih baik di pesantren. Dan aku tidak ingin kecelakaan ini terulang kembali.

Malang, 22 Juni 2012

MENGUNGKAP KEBENARAN ASAL-USUL PONPES SALAFIYAH BIHAARU BAHRU ‘ASALI FADLAAILIR RAHMAH (MASJID TIBAN TUREN)

Masjid yang biasa disebut “Masjid Tiban” terletak di Jl.Anggur Rt. 27 Rw. 06 Sananrejo Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Masjid yang sebenarnya pesantren ini sangat menghebohkan masyarakat tahun 2006. Banyak asumsi masyarakat yang salah dengan adanya masjid ini. Dari wawancara yang saya lakukan dengan salah satu pengurus pesantren yang sudah lama menjadi santri, ternyata masjid tiban itu sebenarnya bukan masjid tapi lebih tepatnya adalah pondok pesantren yang bern`ma Ponpes Salafiyah Bihaaru Bahru ‘Asali Fadlaailir Rahmah. Pondok pesantren ini dirintis tahun 1963 oleh kyai Ahmad Bahru Mafdholudin dan berdiri pada tahun 1978 sekaligus diresmikan. Pesantren ini dirintis sedikit demi sedikit oleh kyai yang pernah menjadi santri di Kriyan Sidoarjo. Kyai Ahmad Bahru Mafdholudin disamping membangun beliau juga mengarsiteki pembangunan pesantren serta mendanai seluruh pendanaan yang dibutuhkan. Dalam melaksanakan pembangunan kyai menggunakan metode istikhoroh yaitu sebagai proses ikhtiar usaha untuk membersihkan diri. Sedangkan untuk masalah pendanaan pesantren ini terdapat tiga kategori, yaitu: Pertama tidak membebani satu sama lain, maksudnya dalam proses pembangunan pesantren tidak meminta bantuan dari pihak lain sehingga dalam proses pembangunan tidak ada donatur. Kedua tidak tamak, maksudnya dalam melaksanakan pembangunan pesantren merupakan proses pembelajaran diri untuk belajar menerima apa adanya. Ketiga tidak hutang atau pinjam, sehingga dalam pembangunan pesantren ini pendanaannya dari orang-orang dalam sendiri khususnya keluarga ndalem. Dari masyarakat sekitar pesantren ada yang menetap di pesantren ini sekaligus menjadi santri. Pembangunan yang terjadi di pesantren ini sangat langka, karena dalam melaksanakan pembangunan yang bertahap hanya dilakukan oleh santri sendiri terutama terutama teman riyadhoh kyai. Proses pembangunan pesantren dilakukan dengan tenaga langsung tanpa bantuan alat berat dan sebagainya. Pembangunan ini dimaksudkan untuk mediasi yaitu menyalurkan aktivitas dari para santri sehingga ilmu yang diperoleh dipesantren langsung dipraktikkan secara nyata. Cukup menakjubkan dari pesantren ini yaitu tidak pernah dikomersilkan atau dipromosikan tapi dapat menyebar dimasyarakat luas dan itu pun hanya dari mulut ke mulut atau biasa di sebut gethok tular. Dalam pembangunan pesantren salafi ini juga terdapat pro dan kontra tapi hal itu tidak menjadi maslaah bagi pihak pesantren karena mereka yakin dari setiap pro dan kontra itu ada hikmah yang diyang dapat diambil sebagai pelajaran. Selama ini pendapat masyarakat tentang pesantren ini hanya sesuai pendapat masing-masing dan itu tidak benar bahwa pesantren ini adalah pondok Tiban (pondok muncul dengan sendirirnya), pondok suliman, pondok ajaib, pondok yang dibangun oleh jin, dan lain sebagainya. Pesantren ini dibangun sendiri oleh santri dan jamaah pesantren.
By : Faizatur Rohmah

IMAN DAN TAQWA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT

Oleh: Prof. DR. K. H. Achmad Mudlor, SH. 1. Pengantar Karangan ilmiah ini berjudul “Iman Dan Taqwa Dalam Perspektif Filsafat”. Untuk menganalisis judul ini perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa Iman danTaqwa adalah dua unsur agamis yang esensiil dari suatu agama dan tidak mungkin terlepas dari pembahasan filsafat, khususnya filsafat agama yaitu membahas masalah agama dari segi filsafat. Filsafat agama dalam pandangan berbagai filosof bukanlah pembahasan filsafat secara bebas, tetapi ia membahas agama dari segi aspek filsafat dengan titik tolak yang tertentu. Karena agama itu bermacam-macam pedoman dan landasannya, maka sudah barang tentu landasan yang dipergunakan sebagai titik tolak pembahasan tulisan ini adalah ajaran Islam. Landasan berfilsafat adalah akal bukan wahyu, oleh karena itu dalam sejarah filsafat terdapat filosof yang beriman dan ada pula filosof yang kufur yang hanya percaya pada pengetahuan indra yang didukung oelh akal, terutama folisof yang beraliran meterialistisme. Sebenarnya antara berfikir filosofis dan berfikir religius mempunyai titik mulai yang sama, keduanya mulai dengan percaya. Dalam filsafat dimulai dengan percaya pada kemampuan akal, sedangkan dalam agama dimulai dengan percaya pada ketetapan wahyu. Menurut agama Islam, Iman diartikan secara sederhana adalah kepercayaan, sedangkan dalam filsafat agama Iman tersebut dipahami secara radikal. Dalam menghadapi kepercayaan kepada kebaradaan Tuhan, setiap manusia atau setiap agama mempunyai konsep yang berlain-lainan tentang apa yang dinamakan Tuhan. Misalnya Plato sering menyebut Tuhan dengan kata (The Good), yaitu Tuhan yangb baik, tetapi dia tidak pernah menyebut Tuhan yang hidup (Yhe Live). Bagi Aristoteles, bahwa kepercayaan terhadap adanya Tuhan adalah kepecayaan kepada adanya zat yang memberi arti kepada alam, tetapi Tuhan yang tidak dapat kita hubungi, artinya bukan Tuhan yang dapat kita sembah dan kita mintai. Tuhan menurut Aristoteles merupakan it bukan he. Tuhan menurut kepercayaan agama greek adalah Tuhan yan dianggab mempunyai hubungan dengan masalah kerohanian atau suatu kekuatan dalam dunia spiritual. Kita sedikit agak setuju Tuhan seperti yang dikemukakan Pascal, yaitu Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya`qub, sebab Tuhan ditambah predikat Nabi-Nabi yang diakui oleh agama Islam, sekalipun sifat-sifat Tuhan tidak disebutkan. Tuhan yang dibahas dalam tulisan ini adalah Tuhan yang diberi predikat 99 asmaa`ul chusna. Iman dan taqwa dalam judul diatas bukan merupakan kesatuan yang utuh, akan tetapi antara keduanya merupakan dua pengetahuan yang mempunyai hubungan yang erat sekali. Tinggi rendahnya nilai keimanan berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya nilai ketaqwaan. Sedangkan tinggi rendahnya nilai ketaqwaan sebagai bukti nilai kebenaran nilai Iman yang dimiliki. Oleh karena itu makalah ini perlu sekali terlebih dahulu memnbahas pengertian iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya. Setiap lubuk hati manusia tidak boleh kosong dari potensi kepercayaan. Dalam filsafat ilmu ini ia sebagai alat tahu. Tidak percaya terhadap adanya sesuatu berarti percaya bahwa sesuatu itu tidak ada. Usaha filosof untuk menjelaskan seluruh kenyataan secara tuntas ternyata masih ada sesuatu sisa yang tidak dapat dijelaskan yang berperan besar terhadap kehidupan manusia. Sisa ini oleh Herbert Spencer diberi istilah The great of imknowable yang harus diterima dengan sikap percaya atau tidak percaya. Bahkan dalam kehidupan manusia sering dihadapkan dengan sesuatu misteri yang tersembunyi dibalik gejala-gejala, bahwa dibalik segala sesuatu yang terpaksa harus dipercaya. Hal ini mendorong untuk dibahas secara radikal oleh berbagai filosof yang tekun dengan filsafatnya. Oleh karena itu dari sisi ini perlu dibahas tentang peran iman dalam meningkatkan amal ketaqwaan. Dalam agama Islam iman mempunyai peran dan pengaruh yang besar terhadap penghidupan manusia dialam semesta ini, baik dalam segi hubungannya dengan Tuhan dan dan sesama manusia maupun hubungannay dengan alam fisika dan metafisika. Wilian James seorang filosof kelahiran New York dengan teori dogmatisnya telah membahas masalah-masalah agama, khususnya tentang iman kepada Allah. James tidak mempersoalkan tentang kebenaran kepercayaan-kepercayaan dalam agama, tetapi yang dipersoalkan adalah hasil menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Baginya kalau kepercayaan atau ide-ide agama itu memperkaya hidup maka itu adalah benar. Kalau ada anggapan yang dapat menjadi dasar suatu hidup yang baik, maka sebaiknya percaya terhadap anggapan itu. Kalau harus memilih antara anggapan yang berbeda maka harus berfikir dari titik akhir. Perspektif tentang manusia dan dunia dengan Allah menggambarakan masa depan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginan kita dari pada perspektif tanpa Allah. Perspektif pertama lebih berguna, maka lebih benar. Dari sisi ini maka perlu dibahas pengaruh iman terhadap kahidupan manusia. Jadi makalah yang berjudul “Iman dan Taqwa dalam Perspektif Filsafat” dibatasi pembahasan sebagai berikut. • Iman dan taqwa serta hubungan anatara keduanya • Peranan iman dalam membentuk ketaqwaan • Pengaruh kekuaatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Tiga rumusan tersebut akan dibahas dalam tulisan yang singkat dan kesempatan yang terabatas. Namun semoga memenuhi hajat bagi para pembaca dan dapat dijadikan pandangan untuk membahas yang lebih luas. 2. Iman dan taqwa serta hubungan antara keduanya Iman dan taqwa adalah dua unsur pokok bagi pemeluk agama. Keduanya merupakan elemen yang penting dalam kehidupan makhluq manusia dan sangat erat hubungannya dalam menentukan nasib hidupnya serta memiliki fungsi yang urgen. Menurut ahli hukum, iman itu hanya sekedar pengakuan suatu makna yang terkandung dalam lubuk hati, menurut para teolog, iman itu adalah kepercayaan yang tertanam dalam lubuk hati dengan keyakinan yang kuat tanpa tercampuri oleh keraguan dan berperan terhadap pendangan hidup atau amal perbuatan sehari-hari. Sedangkan menurut berbagai filosof, iman diartikan lebih jauh dari lafidz dan makna serta tidak terikat dengan dalil-dalil apologis. Misalnya Karl Teodor Yoeper seorang filosof Jerman mengetengahkan istilah iman falsafi yang universil yang berlaku untuk semua zaman dan kebudayaan. Isi iman falsafi baginya, bahwa Allah itu ada, manusia harus mampu memilih memilih yang baik secara tak bersarat, dunia tidak merupakan kenyataan terakhir dan bahwa cinta kasih manusia merupakan suatu bukti adanya Allah. Semua pengertian-pengertian yang dikemukakan diatas pada dasarnya menunjukkan, bahwa iman itu berperanan dan berpengaruh terhadap tindak laku manusia dalam segala aspek kahidupan manusia. Menurut filosof islam Imam Ghozali bahwa iman itu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual atau batin, dimana hati dapat menangkap iman dalam pengertian hakiki melalui kasyaf yang diperoleh berkat pancaran sinar Ilahi padanya. Dalam kesempatan lain beliau menegaskan, bahwa arti iman adalah pengakuan yang kuat tidak ada pembuat (faa`il) selain Allah. Makna iman yang dikemukakan ini menimbulkan problema metafisis, diantaranya membatasi sebab pembuat (illah faa`iliyah) hanya kepada Allah, manafikan kebebasan berikhtiar dari manusia serta penyerahan diri (tawakkal) kepada-Nya. Pemikiran Imam Ghozali ini disebut dengan istilah tauhid, sebab artinya keimanan itu tidak boleh menghubungkan sebab tersebut kepada selai Allah. Dialah pembuat satu-satunya dan selain-Nya hanya sekedar washilah (perantara). Hukumnya perantara itu dalam tinjauan filsafat juga sebab, namun sebab pokok. Bagi Imam Ghozali iman itu bukan lawan dari syirik, tetapi peng-Esaan kepada Kholiq (Pencipta). Oleh karena itu bagi orang yang meng-Esakan Allah harus bersikap tawakkal. Tawakkal bukan berarti maniadakan ikhtiar, tetapi maniadakan kebebasan berikhtiar, karena dalam tawakkal manusia berkesempatan untuk kasab (berusaha). Bahkan dengan tawakkal itu dapat mengenal hakekat ikhtiar dan sekaligus dapat mengetahui nilai dan kualitas iman. Iman yang sebenarnya harus membuahkan tawakkal, sehingga dapat memperoleh ridho Allah. Dalam kitab suci dikemukakan, bahwa Nabi Hud, Nabi Musa dan tang lainya telah menjadikan tawakkal sebagai benteng kekuatan bertaqwa dalam menghadapi kaumnya. Ini semua menunjukkan, bahwa antara iman dan taqwa saling berpengaruh dalam membentuk membentuk manusia berkepribadian luhur. Iman menurut pemikiran Imam Ghozali diatas mengandung implikasi yang sangat luas. Diantaranya sekaligus sebagai garis pemisah terhadap pandangan orang yang mengingkari wujud dibalik materi, menolak dengan tegas faham polotisme, atheisme, animisme, dan lainnya. Penafsiran sebab tauhid sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ghozali tidak dapat disamakan dengan penafsiran sebab yang dengan dikemukakan oleh Aristoteles, sebab Aristoteles tidak bermaksud dengan konsepnya itu menafikan sebab material. Gerak alam ini dipandang olehnya sebagai gerak tujuan (illah ghoyah) yaitu Tuhan adalah tujuan yang menjadi arah gerak alam, sedangkan Imam Ghozali menafsirkan Allah penggerak satu-satunya. Dialah pencipta segala sesuatu, pencipta absolut sebagaimana ditegaskan oleh wahyu-Nya. Pada umumnya pada filosof yang tidak mengenal ide-ide agama, maka dalam filsafat ketuhanan perlu berpendirian, bahwa permulaan alam hanya sebagai pengatur dan penyusun materia in prima (materi pertama) sebagai Tuhan sendiri. Pengertian pengatur dan penyusun lebih menunjukkan keterampilan daripada pencipta. Pendirian mereka menjadikan wujud keseluruhannya tersusun dari sebab akibat. Tuhan dan materi tunduk di bawah hukum kemestian (nesessity). Jadi kenyataan isi dari iman antara filosof murni dengan filosof yang mengakui ide-ide agama, khususnya Islam jauh berbeda, sehingga konsekuensinya dalam pembentukan kepribadian luhur dan pola pikir dalam mengarungi kehidupan ditengah-tengah masyarakat akan terjadi perbedaan juga. Disini tampak dengan jelas, bahwa sila pertama dari Pancasila sebagai asas tunggal bermasyarakat dan bernegara tidak sama dengan kepercayaan para filosof yang tidak mengenal agama dalam mempercayai keberadaan Tuhan. Tuhan dalam Pancasila adalah Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta alam semesta, Penagsih, Penyayang, dan sebagainya seperti dijelaskan oleh ajaran agama khususnya ajaran Islam. Pemikiran ketuhanan yang terkandung dalam Pancasila ternyata berpengaruh besar dalam merumuskan Tujuan Pendidikan Nasional, Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila dan aturan-aturan yang lain di Negara kita yang hampir kesemuanya mengandung norma-norma luhur. Filosof-filosof Islam, baik Mu`tazilah maupun Ahli Sunnah berpendapat bahwa hukum beriman kepada Allah adalah wajib karena iman itu dapat diharapkan terbentuk masyarakat yang bertaqwa. Mereka berselisih tentang dasar terjadinya kewajiban itu dari agama, sebab akal tidak mengenal hukum wajib. Akal hanya mengenal tepat dan tidak tepat, sesuai dan tidak sesuai, benar dan salah. Abu Mansur Maturidi dan pemikir Ahli Sunnah memberikan penyelesaian kontradiksi tersebut dengan penegasannya bahwa dasar kewajiban beriman itu dari agama dan dapat difahami kebenarannya oleh akal. Taqwa itu pada prinsipnya adalah amal batin atau lahir, baik yang bersifat mengikuti perintah Tuhan maupun amal yang berbentuk menjauhi larangan Tuhan. Yang menjadi problema apakah unsur amal itu menjadi syarat iman, dengan pengertian, bahwa apakah tanpa amal seseoran tidak dianggap beriman. Mayoritas ahli pikir Mu`tazilah dan Khowarij berpendirian, bahwa amal adalah rukun iman. Iman seseorang tidak dapat diterima tanpa amal dengan argumentasi, bahwa kalimat “Innal ladzina Amanuu” dalam firman Allah selalu diiringi kalimat “wa Amilush sholihahat” atau kalimat lain yang maksudnya sama. Tetapi menurut ahli pikir Ahli Sunnah, bahwa amal bukan sebagian rukun iman dengan alasan, bahwa apabila amal termasuk rukun iman berarti Iman dan Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah, sedangkan berdasar penjelasan Hadist antara keduanya berlainan, dimana Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang apa rukun Iman dan rukun Islam. Masing-masing dijawab dengan jawaban yang berbeda. Bagi ahli pikir Ahli Sunnah kalimat “Alladzina Amanu” memang selalu diikuti kalimat “wa amilush sholihat” ini menurut analisa bahasa bahkan menunjukkna perbedaan, sebab Wau Athaf disitu menunjukkan perbedaan (Taqtadli Mughoyarah). Artinya iman itu bukan amal dan amal itu bukan iman. Hal ini sama dengan kalau orang yang makan telah pergi. Ini menunjukkan, bahwa berkata itu bukan makan dan makan itu bukan berkata. Tetapi ahli pikir Ahli Sunnah mengakui bahwa antara keduanya mempunyai pengaruh yang erat sekali. Apabila antara dua pendapat tersebut diatas dikomparasikan maka pendapat ahli pikir Ahli Sunnah lebih kuat argumentasinya. Sebab manakala amal itu termasuk rukun iman dan iman tidak diterima tanpa amal sholeh, maka alangkah sedikitnya orang-orang yang masuk surga. Dalam pada itu dikemukakan oleh suatu hadits, bahwa “akan keluar dari neraka siapa saja yang didalam lubuk hatinya teradapat sedikit dari iman”. Hadits ini menunjukkan orang yang beriman tanpa amal bagaimanapun akan masuk surga sekalipun sangat lama sekali merasakan neraka. 3. Peranan Iman dalam membentuk amal ketaqwaan Peranan iman tidak dapat terhitung jumlahnya. Yang tidak diketahui lebih banyak dari pada yang diketahui. Bahkan peranannya dalam dunia metafisika sedikit sekali yang dapat dijelasakan. Iman adalah sesuatu yang tersembunyi dalam jiwa (Ma waqaro fil qalbi). Berdasarkan eksperimen sebagian besar ahli jiwa berkesimpulan, bahwa iman kepada Allah termasuk obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit jiwa atau menghilangkan gangguan jiwa. Kesimpulan inin diperkuat oleh filosof-silosof besar diantaranya Francis Bacon, William James, Kierkegoor dan lain-lain. Menurut filosof Islam Jamaluddin Alafghoni, bahwa iman kepada Allah menumbuhkan keteguahan pendirian dalam menghadapi kesulitan dan bahaya, bahkan mampu untuk membentuk kerelaan dan meninggalkan kemewahan hidup, manakala ada seruan untuk bejuang dijalan Allah. Keteguhan pendirian tersebut menjadikan kekuatan yang sangat teguh walaupun bahtera kehidupannya terombang ambing oleh ombak dari segala penjuru. Kekuatan tersebut sekalipun merupakan pendirian setiap individu, namun menjadi kekuatan masyarakat dan bangsa. Pemikiran Jamaluddin ini sejalan dengan kepercayaan filosof Plato, bahwa suatu bangsa tidak dapat menjadi kuat, kecuali bila ia percaya kepada Tuhan, sekedar kekuatan alam atau sebab pertama atau elan vital, yang tidak berupa person, jarang sekali dapat berhasil mengilhamkan harapan, pengabdian atau pengorabanan. Akan tetapi Tuhan yang hidup dapat berbuat semua ini. Kedua pemikiran tersebut menunjukkan, bahwa peranan iman adalah menumbuhkan kekuatan pendirian. Telah disepakati oleh semua ilmuan, bahwa manusia adalah makhluk sosial tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan kerjasama anggota masyarkat. Kerjasama tidak akan langgeng tanpa adanya aturan atau hukum atau undang-undang yang mengatur hubungan untuk mematuhi hak dan kewajiban masing-masing anggota masyarakat. Untuk merealisasinya sangat membutuhkan pendukung atau kekuatan. Kekuatan pemerintah hanya dapat mencegah pelanggaran yang nyata dan dapat dibuktikan. Sedangkan para hakim yang berstatus penegak hukum sering dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka untuk menghadapi kejahatan atau kekejaman yang terselubung membutuhkan kekuatan yang mampu mengendalikan nilai hukum dan norma-norma luhur. Hampir semua ahli-ahli agama mengakui, bahwa iman dan taqwa berperan sebagaikekuatan pengeandali hawa nafsu untuk menegakkan norma dan nilai tersebut. Orang yang beriman kepada Allah mempunyai rasa atau kesadaran tentang kelamahan dan kekurangannya. Kelamahan dan kekurangnnya ini dapat menimbulkan sifat menyerah kepada Allah yang diimani. Hal ini Islam mengakui berdasarkan wahyunya, menurut Th. Steinbuchel, bahwa dalam kepercayaan kepada Tuhan, manusia mempunyai rasa enfurcht und mertven (rasa hormat dan menyerah dengan percaya). Dalam Islam pengaruh iman diantaranya rasa tawakkal (Ali Imron: 160). Tawakkal dalam tinjauan tasawuf ini harus seiring dengan kesabaran. Keberhasilan manusia tidak mungkin sepenuhnya dari usaha sendiri. Sedangkan kecil dan tidaknya ditentukan oleh berbagai faktor diluar kemampuannya. Faktor-faktor itu adalah sebab keberhasilan. Banyak akibat yang sebabnya bermacam-macam dan sebaliknya, banyak sebab yang akibatnya bermacam-macam. Banyak akibat yang sulit diketahui sebabnya dan banyak sebab yang sulit diketahui akibatnya. Dalam situasi diatas sikap tawakkal sangat diperlukan. Iman yang kuat mempunyai peran untuk menimbulkan tawakkal. Dari sini manusia akan mengetahui hakekat usahanya. Orang beriman mempunyai tekat untuk berbuat baik. Kalau kita pinjam istilah filosof dari Max Scheler ialah Wollen de Tuns (Niat untuk berbuat). Kalau kita menukil istilah wahyu adalah `azam atau iradatun jaazimatun (kehendak yang sudah pasti). Oleh Max Scheler dinyatakan, bahwa kesiapan yang fundamental ini disebut tekad, sebab didalamnya terdapat keberanian dan tanggung jawab. Memang menegakkan norma yang luhur itu membutuhkan keberanian. Menurut ajaran wahyu disebut tekat menegakkan yang haq itu bukan didorong oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi dan golongan, akan tetapi didorong oleh pikiran yang suci yang tumbuh berkat kekuatan iman. Karena itu mereka tidak takut menghadapi penegak-penegak kebathilan, karena yakin, bahwa pelindungnya adalah Allah. Manusia menurut mandangan Max Scheler memiliki tiga suasana (sphare), yaitu suasana keindraan, suasana vital dan suasana rohani. Dengan tiga suasana ini maka dapat dibedakan tiga macam peranan (gepuhle). Perasaan keindraan adalah rasa seperti enak, pahit dan semacamnya. Rasa vital ada dua cabang yaitu, rasa kehidupan jasmani (lebengepuhle) seperti lelah dan segar bugar, dan rasa kejiwaan (seeliche-gepuhle) seperti apabila orang yang berkata bingung, aku sedih dan aku susah. Kemudian yang ketiga adalah rasa rohani, misalnya bahagia dan damai. Disini badan tidak tersangkut. Orang yang sedang sedang menderita tubuhnya bisa juga merasa bahagia. Diantara tiga nilai diatas nilai rohani lebih atas. Sedangkan Allah menurut Scheler sebagai Maha Nilai. Baginya menyerah kepada Allah tidak kehilangan nilai, melainkan bertambahnya nilainya. Menurut ajaran wahyu orang mu`min yang sebenaranya ialah orang cinta tertingginya diarahkan kepada Allah (Asyaddu Cubban Lillah). Bahkan menurut wahyu manusia diancam oleh Allah manakala cintanya kepada Allah tidak diatas segala macam cinta. Cinta yang tinggi ini menjadi dasar semua cinta kita. Manakala manusia beriman salah satu jenis kecintaannya gagal arau tidak terpenuhi, maka tidak akan merusak kebahagiaan hidup asal cinta tertingginya tetap bercokol. Uraian diatas dapat dirumuskan, bahwa iman yang kokoh berperan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan sekaligus berperan menumbuhkan kebahagiaan hidup. Uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa peran iman, diantaranya menghilangkan gangguan jiwa, menumbuhkan keteguahan pendirian, menumbuhkan kekuatan pengendali hawa nafsu, menumbuhkan tawakkal, menciptakan tekat berbuat baik dan berperan menciptakan rasa cinta dan bahagia. Enam macam peranan tersebut hanya merupakan peranan yang asasi secara minim akan tumbuh pada orang-orang yang benar-benar beriman. Totalitas peranan tersebut secara integral dapat menumbuhkan ketaqwaan dalam hkehidupan manusia, baik sebagai makhluk individual maupun koletif. Sedangkan gambaran rinci tentang proses peranan iman yang menumbuhkan ketaqwaan sebagai berikut, yaitu gambaran singkat sebagai perspektif filsafat agama terhadap iman dan taqwa. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan keselamatan, bukan untuk sekedar beberapa tahun, namun untuk selama-lamanya. Bukan keselamatan fisik berupa kesehatan saja, namun juga keselamatan rohani berupa ketenangan jiwa. Disini iman berperan untuk melenyapkan semua gangguan jiwa. Lebih dari pada itu ia juga membutuhkan keselamatan dalam arti yang tinggi. Keselamatan dalam artian ini menurut wahyu adalah kebahagiaan didunia dan di alam baka.dalam hal ini dibutuhkan peranan iman berupa menciptakan tekat berbuat baik bersama-sama peranan iman yang lain yang berfungsi secara integral. Keberhasilan keselamatan manusia tidak berkat usaha sendiri, namun masih tergantung dengan lainnya, karena realitasnya dia sebagai suatu titik yang kecil terletak dalam suatu kosmos yang maha besar dan tidak terhingga. Bahkan dalam kemerdekaannya dia masih terikat. Oleh karena itu dia membutuhkan dukungan sesamanya dan dukungan lingkungan. Tetapi ternyatab tidak semuanya mendukung, bahkan menjadi penghambat dan perintang, karena masing-masing mempunyai keinginan dan kemampuan yang berbeda. Peranan iman berupa tumbuhnya keteguhan pendirian dan kekuatan pengendalian hawa nafsu mutlak dibutuhkan. Sudah barang tentu tidak semua keselamatan berhasil dengan memuaskan bahka sering terjadi kegagalan. Dalam situasi ini tidak akan terjadi keputusasaan sebab sifat iman yang sebenarnya berperan menumbuhkan sifat tawakkal. Baik berhasil maupun gagal tetap bersyukur sebab iman yang sesungguhnya menumbuhkan rasa cinta dan bahagia dalam situasi apapun. Demikian gambaran proses integral peranan-peranan iman yang mampu menumbuhkan ketaqwaan yang didambakan oleh kejayaan bangasa dan negara. 4. Pengaruh kekuatan iman terhadap kehidupan individu dan masyarakat Sebagaimana peranan iman yang jumlahnya sulit dihitung demikian juga pengaruhnya, dimana yang tidak diketahui lebih banyak. Lebih sulit lagi apabila dianalisis pengaruh iman terhadap hal-hal bersifat metafisik. William James, seorang guru besar dalam ilmu filsafat di Harvard University berpendapat, bahwa pengaruh keimanan menumbuhkan keberanian, semangat, berpengharapan, menghilangkan perasaan takut serta keluh kesah, memberikan perbekalan hidup yang berupa cita-cita dan tujuan hidup, menimbulkan dihadapannya lapangan kebahagiaan dan alam subur ditengah-tengah gurun kehidupan. Dr. Paul Erneet Adolf seorang guru besar pada Universitas Saint Jones dan anggota himpunan ahli bedah Amerika berpendapat bahwa ilmu kedokterran dan ilmu kepercayaaan kepada Allah SWT keduanya patut menjadi landasan untuk membangun filsafat modern. Sebenarnya banyak sekali filosof-filosof dan cendekiawan yang mengakui adanya pengaruh positif dari iman, misalnya Max Scheler, filosof Jerman, Karl filosof Jerman, Karl ospers seorang filosof eksistensialisme, J. Kant filosof dari Rusia yang terkenal dengan teorinya kopernikan ke subyek dan filosof-filosof lain yang terkenal. Pemikiran para filosof dan cendekiawan tersebut pada umumnya tidak secara jelas diterangkan proses terjadinya pengaruh tersebut, sehingga sulit untuk diterima oleh ahli-ahli pikir lainnya. Misalnya watak dasar manusia adalah egoisme. Watak inilah yang sering menimbulkan permusuhan, perampasan hak orang lain, penguasaan dan lain sebagainya. Namun iman yang mengandung ajaran social dan susila mampu menumbuhkan perdamaian dan kedamaian di tengah-tengah kehidupan yang saling bermusuhan. Dalam wahyu ditetapkan, bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan akeduniaan tanpa suatu pedoman dan batas merupakan biang pokok timbulnya kerusakan masyarakat. Namun disamping itu keimanan mampu mengendalikan dan menolak kecenderungan itu, karena iman mengandung ajaran tentang batas diperbolehkannya mencintai keduniaan, yaitu selama tidak menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi kehidupan masyarakat. Sejak dahulu kala sampai sekarang, khususnya dalam era globalisasi banyak sekali kegiatan-kegiatan negative yang tejadi di suatu Negara. Pemerintah dengan undang-undangnya dan hukuman terpaksa mundur dan tidak mampu menyelesaikan kebiaaan negative tersebut. Ternyat kekuatan iman yang memilki pengaruh melumpuhka kebiasaan yang tidak dapat dihadapi oleh kekuasaan dan kekuatan lahir. Pegaruh ekuatan iman melahirkan akhlak dan moral yang luhur dalam kehidupan manusia, seperti jujur, adil dala segala situasi, diucapkan kebenaran walaupun terasa sangat berat, ditegakkan kebenaran sekalipun berakibat merugikan dirinya dan keluarganya, bersikap adil terhadap lawan sebagaimana bersikap adil di tengah-tengah kawan, masih banyak lagi norma-norma luhu yang dicetuskan oleh kekuatan iman. Oleh karena sangat patut sekali apabila dinyatakan bahawa iman dan taqwa adalah kunci pengalaman nilai-nilai luhur. Dengan kunci iman yang menentukan damai atau perang, aman atau kacau, hidup atau mati, tentram atau gelisah, mujur atau malang, kuat atau lemah, halal atau haram, dan sebagainya. Oleh karena itu kepercayaan tentang keesaan Tuhan tidak saja merupakan akibat dai terutusnya nabi Muhammad saw, tapi juga menjadi akibat pokok dan dasar terutusnya nabi-nabi semuanya. Perubahan jiwa seseorang aau masyarakat merupakan suatu reformasi dala pandang filsafat. Setiap pembangunan dan kebangkitan umat dalam situasi apapun harus sejalan dengan reformasi jiwa tersebut. Apabla tidak sejalan maka usaha pembangunan dan kebangkitan ummat itu hanya berupa rencana atau program semata-mata. Reformasi jiwa bukanlah suatu hal yang rinagn dilakukan, tetapi merupakan suatu hal yang berat dan sulit, sebab manusia merupakan makhluk yang dalam dirinya bertemu secara integral semua sifat-sifat, baik positif maupun negative yang memerlukan media yang mampu sebagai mekanisme spiritual yang menormalisir sifat-sifat yang paradok itu. Oleh karena itu wajar perubahan jiwa manusia termasuk usaha yang sangat berat, membendung aliran air yang dahsyat dan mengubah arah aliarannya, membuat terowongan tanah dibawah laut merupakan pekerjaan yang lebih ringan daripada usaha mengubah jiwa dan pandangan hidup. Tetapi ternyata dalam pengalaman sejarah pengaruh kekuatan iman yang mampu menciptakan perubahan jiwa manusia dan menjadikan manusia dalam bentuk baru, sehingga berubah juga pandangan hidupnya didua masa, yaitu masa di dalam keadaan kafir dan masa didalam keaadaan beriman, maka jelaslah bahwa dalam masa kedua itu bukan lagi seperti dalam masa pertama, sekalipun nama dan bentuk tubuhnya berubah. Kadang pengaruh iman terhadap seseorang terjadi secara drastic, tanpa memandang umur dan tingkat penghidupan. Sering pengaruh tersebut bertentangan dengan teori para psikolog, dimana mereka menetapka teorinya, bahwa keberhasilan pendidikan terikat oleh masa-masa tertentu. Hal ini berbeda dengan pengaruh iman, apabila iman telah tertanam dalam jiwa seseorang, maka iman tersebut mampu mengubah jiwa dan pandangan hidup. Semuanya itu tidak terbatas pada masa-masa tertentu, baik masa remaja, dan masa dewasa maupun tua. Pengaruh iman terhadap jiwa bukan suatu hal yang diragukan sebagaimana dapat disaksikan pada fakta sejarah bangsa arab. Pengaruh iman terhadap perubahan jiwa tidak hanya terjadi pada kehidupan masyarakat dan bangsa, namun juga terjadi terhadap individu, baik pria maupun wanita, seperti terjadi pada seorang laki-laki bernama Umar bin Khattab dan seorang wanita bernama Khansa`. Ternyata pribadi keduanya sebelum dan sesudah beriman jauh berbeda. Berkat pengaruh iman keduanya menjadi hamba Allah yang penuh taqwa dalam segala situasi dan kondisi. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Penulis adalah dosen Filsafat Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Malang. Bahan bacaan • Al-Qur`an wa al Ilmi al Hadits, Musthofa Shodiq Al Rofi`i. • Ihya` al `Ulum al Din, Abu Hamid Muhammad Al Ghozali. • Al Munqis min al Dlolal, Abu Hamid Muhammad Al Ghozali. • A. Modern Philosophy of Religion, Henry Regnery. • Al Wujud al Haq, Dr. Hasan Al Huwaidy. • Percikan Filsafat, Prof. Dr. N. Drijerkara S.J. • Tarikh al Hukama, Al Qifti. • Berkenalan dengan eksistensialisme, Prof. Dr. Fuad Hasan.

Cerpen "Kebohongan yang Terakhir" Karya Rahini Ridwan (Pendekatan Sosiologis)


Perkembangan kritik sastra Indonesia dalam dekade tahun 1980-an ditandai dengan munculnya beberapa pembicaraan mengenai sosiologi sastra atau pendekatan sosiologis terhadap karya sastra. Dalam hal ini, kritik sastra sesungguhnya mencoba memanfaatkan disiplin ilmu lain(sosiologi) untuk memberi penjelasan lebih mendalam mengenai salah satu gambaran kemasyarakatan yang terdapat dalam karya sastra. Oleh karena itu, pembicaraan mengenai hubungan kritik sastra dengan sosiologi muncul karena ada anggapan bahwa karya sastra merupakan cermin masyarakat. Masalah mengenai hubungan sosiologi (masyarakat) dengan sastra telah cukup jelas dipaparkan Rene Wellek dan Austin Warren (TosKesusastraan, 1989) Sapardi Djoko Damono (Sosiologi Sastra: SebuahPengantar, 1984) atau Andre Hardjana (Kritik Sastra: Sebuah Pengantar, 1981).
Pemahaman atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan secara lebih lengkap apabila karya itu tidak dipisahkan dari lingkungan, Kebudayaan atau peradaban yang menghasilkanya. Dikatakannya juga bahwa karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dan faktor-faktor sosial dan kultural. Pernyataan itu mengisyaratkan perlunya menghubungkan faktor sosial-budaya dalam usaha memahami karya selengkapnya. Dan hubungan ini akan tampak bahwa dalam beberapa ungkapan sastra sebagai cermin masyarakat mempunyai nilai kebenaran. Apalagi jika ternyata kita tidak memperoleh bahan tulisan tentang karya itu (Grebstein, 1968).
Menurut Rifattre (1978), suatu karya sastra tidak diciptakan dari ruang yang kosong dan hama. Sastra tidak berasan dan ketiadaan kemudian diciptakan oleh pengarang.
Cerpen ”Kebohongan yang Terakhir” karya Rahini Ridwan merupakan cerpen pilihan kompas 1970-1980, yang termuat dalam buku Dua Kelamin bagi Midin. Ridwan sebagai pengarang mengangkat suatu cerita berdasarkan fenomena sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Cerpen ini menceritakan tentang seseorang yang mempunyai kebiasaan berbohong. Seringkali tokoh Aku dalam cerpen ini berbohong sehingga masyarakat di lingkungan tempatnya tinggal mencibirnya sebagai pembohong. Dia tidak pernah merasa malu dengan kebohongan yang dibuat, menurut dia kebohongan adalah prestasi karena dengan begitu punya predikat, status dan kontak sosial sebagai pembohong. Suatu malam yang menjadi puncak kebohongan yang dilakukan tokoh Aku, yaitu saat dia mendatangi setiap rumah orang sekampung dan berkata pada mereka bahwa pak lurah Nurdin selaku lurah dikampungnya telah meninggal. Mendengar pemberitahuan yang seperti itu seluruh warga percaya. Setelah mengetahui kebohongan yang dilakukan tokoh aku, seluruh warga menghakiminya di pendopo dan selesai kejadian itu, ibu tokoh Aku meninggal.
Membaca cerpen ”Kebohongan yang Terakhir” menggambarkan sebuah konflik yang terjadi dalam masyarakat. Adanya konflik tersebut berhubungan dengan kehidupan tokoh utama yang kurang perhatian dari ibunya, itu disebabkan karena ayahnya sudah meninggal dan ibunya yang sering sakit-sakitan. Kurangnya perhatian yang diterima tokoh utama dalam cerpen, membuatnya melakukan kebiasaan yang tak terpuji tapi disenanginya yaitu berbohong. Hal tersebut menjadikan tokoh utama kurang dapat di terima di lingkungan masyarakat, karena adanya faktor tidak suka dari prilaku sang tokoh. Tapi walaupun demikian, pengarang menghadirkan prilaku positif dari tokoh utama yaitu dia tidak pernah membohongi ibunya.
Dari masalah yang diangkat pengarang dalam cerpen, dapat dilihat bahwa fenomena sosial yang terjadi hanya berasal dari satu konflik yaitu masalah kebohongan. Di mana konflik tersebut sengaja di buat oleh tokoh utama yang mengakibatkan kampung menjadi ribut. Tidak pernah ada penyesalan dari perbuatan yang dilakukannya, tapi dia malah senang jika masalah yang dibuatnya berhasil. Dari situ dapat diketahui realita ”kehidupan” dan ”lingkungan” yang terjadi dalam masyarakat.
Ridwan sebagai pengarang cerpen “Kebohongan yang Terakhir” menghubungkan konflik dalam cerpen dengan masyrakat pada masa itu, sehingga masyarakat ikut terlibat didalamnya. Di samping itu, pengarang juga menceritakan kehidupan yang dialami tokoh utama secara detail. Namun, kehidupan tentang masyarakat tidak begitu diceritakan dalam cerpen ini, hanya terlihat secara implisit.
Lingkungan yang digambarkan pengarang dalam cerpen terlihat alami, seperti tempat tinggal yang masih menggunakan gubuk-gubuk sederhana. Dengan begitu pembaca dapat ikut merasakan suasana yang terjadi. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat juga dimanfaatkan pengarang dalam cerpen ini. Hal ini tampak pada kalimat “Entah berapa ratus orang dengan muka tegang dan marah telah berjejal memenuhi pendopo”. Dari kalimat itu dapat diketahui bahwa ketika terjadi suatu masalah di kampung, seluruh warga pergi ke pendopo untuk menyelesaikannya bersama. Tradisi seperti itu mencerminkan realita sosial yang terjadi dalam cerpen “Kebohongan yang Terakhir”.
Setelah membaca cerpen ini pembaca dapat menarik pemahaman bahwa cerita ini bukanlah semata-mata kenyataan yang diceritakan, namun hanya rekaan dari pengarangnya. Di mana tujuan pengarang yaitu agar pembaca dapat mengambil manfaat dari peristiwa yang terjadi dalam cerpen. Di samping itu pengarang juga memberikan informasi, bahwa kebohongan yang dilakukan tokoh utama adalah kebohongan yang terakhir, yang mana kebohongan adalah perilaku yang biasa dilakukan tokoh utama sedangkan yang terakhir adalah untuk yang terakhir kalinya karena musibah besar telah menimpanya sehingga membuatnya sangat menyesal.
Melalui cerpen ini pula, pengarang menyampaikan suatu amanat bahwa dalam kehidupan ini setiap kebohongan pasti akan menimbulkan dampak buruk dan menjadikan orang lain tidak percaya. Oleh sebab itu, hendaknya menjauhi perilaku berbohong karena sekali saja orang dibohongi, kemungkinan besar orang tersebut tidak akan pernah percaya dengan orang yang membohonginya. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada tiga kutipan berikut.
Sekali waktu, suatu malam yang dingin. Disinilah puncak kebohonganku yang paling besar, yang akhirnya membuat semua orang tak lagi percaya padaku. Kudatangi setiap pintu rumah orang sekampung, kuketuk keras-keras dan tergesa-gesa. Kukatakan pada mereka: ”Pak Lurah Nurdin sudah meninggal!”
...............................................................................................................

Samar-samar dalam sinar teplok yang redup , kudapati ibuku terjatuh, telungkup di bawah dipan bambu. Dari mulutnya keluar darah hitam. Kuusap wajahnya. Dingin Ah, aku hampir menjerit. Ia telah meninggal.
...............................................................................................................

Dalam kegelapan. Batinku meronta. Tak tahu apa yang harus kubuat. Akankah kuketuk lagi setiap pintu rumah mereka dan kukatakan ibuku telah meninggal? Akankah mereka percaya bahwa kali ini-walau hanya untuk kali ini saja-aku berkata tentang hal yang sebenarnya? Akankah mereka bersedia membuka pintu untukku yang kembali menyampaikan berita tentang kematian?

Selain itu, dalam cerpen ”Kebohongan yang Terakhir”, pengarang juga menyampaikan suatu pesan tentang kematian yaitu maut tidak pernah berbohong. Dalam cerpen ini pengarang juga memberi pesan secara implisit bahwa berbohong juga ada batasnya, sehingga dapat disimpulkan berbohong tentang kematian orang lain akan sangat fatal dampaknya. Hal ini tergambar pada kutipan berikut.
”Ah, tidak mungkin secepat itu beliau meninggal,” kata yang lain. ”Masya Allah!” jawabku tegang. ”Kapankah maut pernah kompromi dengan manusia?” Akhirnya mereka semua percaya. Aku berhasil. Malam itu juga seluruh kampung menjadi sibuk, ramai, dan masing-masing bergegas menuju rumah duka, rumah Pak Lurah Nurdin. Aku tersenyum puas sambil menikmati rokok klintingan di tempat tidur.

Kutipan diatas memberikan gambaran bahwa kebohongan tentang kematian orang lain akan menimbulkan masalah besar dalam suatu masyarakat. Dalam cerpen ini orang yang menjadi sasaran kebohongan tokoh utama adalah Pak Lurah Nurdin selaku lurah di kampungnya. Dari penjelasan kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan hendaklah dipikirkan terlebih dahulu dampak yang akan di timbulkan, sehingga tidak merugikan orang lain.





Daftar Rujukan:
Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. 2003. Dua Kelamin bagi Midin. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Grebstein. 1968. Pendekatan sastra, (Online), (http://zainuddinfanani.wordpress.com/2000/02/14/pendekatan-sastra/), diakses pada 2 Januari 2012.
Rifattre. 1978. Pengantar Aspresiasi Karya Sastra, (Online), (http://aminuddin.blogspot.com/1995/10/01/pengantar-aspresiasi-karya-sastra/), diakses pada 2 Januari 2012.


















Pertanyaan Pengantar Sastra:
1. Apa tema utama yang akan disampaikan pengarang dalam cerpen tersebut? Apakah tema yang disampaikan berkaitan dengan konteks masyarakat pada saat cerpen tersebut dilahirkan (hingga saat ini)? Jelaskan!
2. Berkaitan dengan tokoh dalam cerpen, setujukah anda dengan sikap/ tindakan/ perilaku yang dilakukan oleh tokoh utamanya? Jelaskan jawaban anda!?
3. Cerpen yang anda pilih adalah cerpen terbaik kompas pada tahun tertentu. Menurut pertimbangan Anda, mengapa cerpen tersebut dipilih oleh kompas sebagai cerpen yang terbaik?
4. Kutiplah salah satu alenia yang menurut anda menarik? Beri alasan!

Jawaban:
1. Tema utama yang pengarang sampaikan yaitu tentang fenomena sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Ya, karena konflik yang dihadirkan pengarang dalam cerpen menyangkut kehidupan masyarakat pada suatau kampung.
2. Tidak, karena tokoh utamanya mempunyai kebiasaan yang tidak terpuji yaitu berbohong. Perilaku tokoh utama tidak mencerminkan seseorang yang dapat dipercaya, sifatnya yang suka berbohong sangat merugikan orang lain, sehingga masyarakat dikampungnya sulit untuk menerimanya.
3. Menurut saya, karena cerpen tersebut menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami pembaca. Di samping itu cerita yang ada dalam cerpen berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
4. “walau demikian kelakuanku di luar rumah, tapi didalam rumah sendiri aku tak pernah membohongi ibuku.”
Menurut saya kutipan diatas menarik karena perilaku tokoh utama yang selalu berbohong, tapi saat di rumah dia tidak pernah membohongi ibunya. Dari situ kita dapat mengetahui bahwa seburuk-buruknya perilaku seseorang pasti tidak akan tega menyakiti hati ibunya dan tidak semua orang yang perilakunya jelek tidak mempunyai perilaku yang baik.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Faizatur Rohmah - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger